Tingkat Kemiskinan Pedesaan Turun, Petani Lebih Sejahtera

DATA Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan tingkat kemiskinan di pedesaan mengalami penurunan pada 2016. Pada September 2016, tercatat jumlah penduduk miskin di pedesaan mencapai 17,28 juta jiwa, sedangkan pada Maret 2017 angkanya merosot menjadi 17,10 juta jiwa.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengungkapkan dengan membaiknya tingkat kemiskinan di pedesaan berarti ada kehidupan yang lebih baik untuk para petani yang umumnya adalah masyarakat yang mengisi wilayah pedesaan.

Mengacu pada data yang juga dikeluarkan BPS, tercatat Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) pada 2017 cenderung mengalami peningkatan.

“Pada Juni 2017, NTP sebesar 100,53, naik dibanding Mei 2017 yang sebesar 100,15. Sedangkan NTUP naik dari 109,15 pada Mei menjadi 109,59 pada Juni 2017,” ucap Winarno.

Upah harian buruh tani, per Juni 2017, juga mengalami kenaikan menjadi Rp49.912 per hari, tumbuh 0,26% dari bulan sebelumnya yakni Rp49.782.

Adapun, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk di pedesaan mengalami penurunan dari 0,327 pada Maret 2016 menjadi 0,320 pada Maret 2017.

“Data dan informasi tentang angka kemiskinan di desa, gini rasio yang membaik dan upah buruh tani yang meningkat ini merupakan informasi bagus dan menunjukkan satu indikator petani lebih sejahtera, bila upah buruh tani naik ini kan menggambarkan daya beli buruh tani meningkat pula,” lanjutnya.

Ia meyakini capaian penurunan kemiskinan di pedesaan berkaitan erat dengan berbagai program yang telah dilakukan pemerintah sejauh ini.

Ia menilai, pemerintah tidak hanya fokus pada upaya pengembangan pertanian, tetapi juga serius dalam program pemberdayaan untuk menyejahterakan petani.

Adapun Kepala Bidang Data Sosial Ekonomi Pusat Data dan Informasi Pusdatin Kementerian Pertanian Lutful Hakim mengatakan program peningkatan produksi terus dilakukan hingga saat ini. Perbaikan jaringan irigasi, bantuan alat mesin pertanian, bantuan benih unggul, subsidi pupuk, perluasan areal tanam dan berbagai program lainnya telah memberikan dampat terhadap peningkatan produksi.

Kementan mengklaim adanya peningkatan produksi padi hingga 8,3 juta ton atau senilai Rp38,2 triliun selama periode 2014 hingga 2016. Begitupun jagung yang diklaim meningkat produksinya hingga 4,2 juta ton atau setara Rp 13,2 triliun.

Sementara, program-program yang terkait dengan upaya mensejahterakan petani antara lain pemberdayaan petani melalui pelatihan dan pendampingan, pengembangan kawasan rumah pangan lestari, perlindungan harga petani dengan kebijakan harga acuan, serap gabah petani dan produk pangan strategis lain, kemitraan petani jagung dengan GPMT, kemudahan petani untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan asuransi usaha tani padi dan sapi.

“Program Kementan pun fokus pada memperpendek rantai pasok tata niaga pangan, membangun Toko Tani Indonesia, membentuk Satgas Pangan dan lainnya,” tutup Lutful.(OL-3)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...