Tergiur Untung Batu Kapur, Banyak Perusahaan Tambang Menyerbu Sejumlah Kecamatan di Rembang

JAKARTA – Watuputih, bukan saja bukit kapur yang memanjang dari barat ke timur di Rembang, Jawa Tengah. Melainkan juga tempat menanam bagi petani, kantong air bagi warga, juga rumah bagi kelelawar dan biota lain.

Dengan kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) seluas 31 kilometer persegi atau 11 kali luas GBK, simpanan air di sana bisa mencukupi kebutuhan untuk Rembang dan Blora.

Melimpahnya batu kapur, jadi potensi menggiurkan untuk tambang. Namun sepadankah untung yang didulang dengan kerusakan lingkungan kelak?

Berikut kisah lengkapnya seperti yang dilansir dari Program Saga produksi Kantor Berita Radio (KBR).

Berdiri di bawah gapura Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, mata akan tertumbuk pada deret bukit gamping, tegakan pohon, dan hamparan sawah.

Berseling antara hijau, putih, dan cokelat muda. Deretan bukit itu adalah Watuputih –bagian dari Pegunungan Kendeng Utara. Sebuah bentang karst yang memanjang dari Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah hingga Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Sejumlah penelitian mulai dari Dinas ESDM Jawa Tengah pada 1998, hingga penelitian mahasiswa pascasarjana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran pada 2015 menemukan tanda; kawasan itu berkembang menjadi morfologi karst.

Dengan sistem di bawah permukaan yang amat kompleks –sehingga layaknya dilindungi. Klik di sini untuk melihat berapa banyak perusahaan tambang yang menyerbu sejumlah kecamatan di Rembang.

“Kalau sungai bawah tanah kami pasti, meyakinkan. Karena berhubungan dengan mata air. Bentuk eksokarst: mata air permanen itu ada, bukit karst itu kemungkinan ada, dolina dan uvala. Telaga ya apa ada di sana? Kemudian sungai bawah tanah itu ada. Speleteum itu gua-gua yang saling berhubungan,” papar Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah Teguh Dwi Paryono kepada KBR dalam wawancara Februari 2017.

Dolina yang disebut itu adalah cekungan tertutup berbentuk lonjong juga bulat. Sedang uvala, gabungan dolina. Keduanya merupakan cirri morfologi karst.

Penelitian paling mutakhir dilakukan pakar geologi UPN Veteran, Nandra Eko Nugroho pada 2015. Pendataannya menemukan ada 74 goa di kawasan itu.

Sementara pengamatan berkala Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) menyebut, ada 28. Sedangkan Amdal PT Semen Indonesia mencantumkan 31 gua.

Ketika di Rembang, saya menyaksikan satu dari puluhan gua itu. Diantar Wagiman hingga mulut gua, perjalanan ke sana cukup curam, ditumbuhi ilalang, bambu, dan semak berduri.

Keadaan sekitar gua terasa lembab. Cahaya matahari di sekitar gua ini hanya lewat celah kanopi rimbun pepohon yang mengelilingi.

“Ini masuk, sekitar 20 meter. Turun, terus jalan biasa terus turun lagi 5 meter, baru air. Saya kasih tangga panjangnya 3 meteran itu dua kali kok. Setelah itu kan jalan biasa, lalu turun lagi baru air,” kata Wagiman, warga Timbrangan (Februari 2017).

Gua itu bernama Menggah. Menurut Amdal PT Semen Indonesia, Gua Menggah tak masuk wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP). Dan, memang tak masuk. Kata Wagiman dan Ngatiban yang pernah masuk, air dalam gua sekitar satu meter. Ada ikan, katak, dan serangga.

Luasan batu kapur di kabupaten ini memang mencapai ribuan hektar. Dan, Bupati Rembang Abdul Hafidz berniat meningkatkan pemasukan daerah dengan menambang bebatuan kapur ini.

“Kapur kita itu kan melimpah, ada sekitar 2000 hektare. Kalau kita kelola dengan kedalaman 100 meter dari paling atas, itu akan ketemu 5000 juta ton dari 2000 hektare itu. Padahal semen itu, kalau produksinya 3 juta ton 1 tahun itu, kalau 30 tahun baru 30 juta ton, kalau 50 tahun itu 50 juta. Padahal ini ada 5000 juta ton. (Mau dimanfaatkan semua?) Nggak, artinya itu potensi di sana,” terang Hafidz.

Dia yakin, tambang kapur akan mendatangkan efek berlipat (multiplier effect) yang berujung pada kesejahteraan warganya.

Pandangan itu bertolok pada tingkat kemiskinan yang dicatat BPS terakhir 2013. Kata dia, angka kemiskinan menurun sejak muncul pertambangan pada 1990an.

Niat yang segendang sepenarian dengan Pemprov Jawa Tengah. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Teguh Dwi Paryono mengatakan, gamping di Watuputih bisa dimanfaatkan selagi sesuai syarat.

Semisal, soal batas tambang dan jaminan bahwa sistem akuifer atau penyimpanan air tak terganggu. Batas tambang aman menurut ESDM adalah tak lebih dari kedalaman 100 meter.

“Memang diatur harus selektif, unsur kehati-hatian. Ya itu yang kami masukkan. Makanya batasan penambangan itu kan karena di situ daerah resapan. Yang masukan air ini yang kami atur,” ujar Teguh.

PT Semen Indonesia, salah satu perusahaan yang antre, melalui Amdalnya memastikan hanya akan menambang di zona kering dengan kedalaman kurang dari 100 meter.

Selain perusahaan pelat merah ini, tercatat ada belasan perusahaan tambang lain yang sudah beroperasi sejak 1998. Sebutlah PT Bangun Arta, PT Sinar Asia Fortuna (SAF) dan PT Indonesian Comcocrown Chemical Industry (ICCI).

Termasuk juga, Kepala Desa Tegaldowo Suntono. Dia mengaku memiliki usaha tambang kecil-kecilan sejak 2004.

Hasil yang berkali-kali lipat dibanding bertani membuatnya terpincut. Hanya dari setengah hektar gamping, perbulan dia bisa mengantongi Rp30-40 juta. Artinya, setahun bisa sekitar Rp500 juta.

“Memang betul bumi pertiwi kita harus kita amankan. Tapi kan, ada kata-kata, lebih untung mana kita tambang dengan untuk pertanian. Kalau kita menambang setengah hektar aja bahkan 10 tahun tidak mungkin habis. Untungnya melebihi tani yang 5 hektare,” ucap Suntono, Kepala Desa Tegaldowo.

Dari bertani, ia mengaku hanya beroleh Rp 50 juta tiap kali panen (6 bulan), itupun dengan 5 hektar lahan. Sehingga hasil dari bertani hanya sekitar Rp100 juta pertahun.

“Kalau perkembangan zaman sekarang, ngapain kita mikir anak-cucu. Kita berusaha menyejahterakan anak sendiri dulu, nanti anak cucu dipikir anaknya lagi,” tambahnya.

Dalam uji lapang dan analisis risiko, peneliti Kawasan Watuputih pada 2015, Nandra Eko Nugroho mengungkapkan, penambangan bisa merusak fungsi kawasan sebagai resapan air.

Perhitungan sederhana Nandra, pemotongan 15 centimeter gamping saja dengan asumsi dua hari hujan akan menghilangkan simpanan air lebih dari 6 juta liter.

Watuputih, menurutnya, juga merupakan kawasan imbuhan air terluas di Rembang. Penyimpanan air dari tubuhnya bisa memenuhi kebutuhan lebih dari 600 ribu (607.198) jiwa di 14 kecamatan di Rembang.

“Kalau kita bicara surplus (air), air ini digunakan Rembang dan Blora, mereka hanya menggunakan air dari dua mata air untuk Rembang dan Blora. Kalau bicara pertumbuhan, setiap orang butuh 80-150 liter perorang perhari. Itu belum untuk petani, di sana mayoritas petani,” terang Nandra.

Tak hanya itu, Nandra melanjutkan, karst tak bisa diperlakukan sama seperti batuan lain. Sebab sekali morfologinya rusak, maka hancur sudah ekosistemnya.

Puluhan tahun mendatang, boleh jadi gua seperti Menggah takkan lagi bisa terbentuk. Dan, rumah bagi kelelawar, serangga, katak, tak lagi ada.

“Rekomendasinya itu konservasi, salah satunya membuat geosite, geowisata, geoheritage. Ini akan mengangkat perekonomian lokal, dan sifatnya selamanya,” jelas Nandra.

Selain itu, CAT Watuputih menurut Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah tahun 2010 – 2030 digolongkan dalam kawasan lindung geologi. Maka sudah selayaknya dibentengi.

Sumber Tribunnews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...