Terangnya Desa Penyangga Hutan Kami

HPERJUANGAN melistriki desa-desa terpencil di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak gampang. Ambil contoh, perjuangan warga di Desa Wae Laban, Kecamatan Elar, Manggarai Timur. Salah satu desa penyangga hutan di wilayah itu sama sekali belum tersentuh jaringan listrik BUMN Perusahaan Listrik Negara (PLN). Warga pun coba membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) sejak 2016.

Kini, PLTMH Elar berkekuatan 80 Kilowatt (KW) telah memenuhi kebutuhan listrik bagi 316 keluarga, gereja, musola, sekolah, kantor lurah, asrama, puskesmas, dan kantor camat.
Peresmian PLTMH digelar di lapangan Paroki Elar, Rabu (26/4), dihadiri ribuan warga. Pembangkit ini diresmikan Bupati Manggarai Timur Yosep Tote, Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng, Kasubdit Ekologi Alami Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nuraeni, Perwakilan UNDP Christian Usfinit, dan Bappeda NTT Crescentia Anne.
Mereka berkolaborasi dalam proyek Strategic Planning and Action to Strengthen Climate Resilience of Rural Communities (SPARC).

“Kami bersepakat bahwa PLTMH menjadi salah satu pilihan adaptasi terhadap perubahan iklim, tetapi juga kegiatan lain seperti mekanisme pengolahan kopi dan pengembangan pertanian organik,” kata Koordinator Cabang Pelayanan Program SPARC dan PLTMH Elar Pater Lorens Kuil.

Awalnya, warga hanya mampu mengumpulkan dana Rp390 juta dari kebutuhan Rp3,788 miliar. Bantuan pun diperoleh dari pemda sebesar Rp70 juta, UNDP, dan CSR Bank Pembangunan Daerah NTT Rp419 juta, dan kredit usaha rakyat (KUR) Bank NTT Rp568,8 juta dan tenaga ahli PLTMH asal Surakarta Budi Yuwono Rp2,3 miliar.
Untuk pemeliharaan, satu bola lampu dikenai iuran Rp10 ribu. Warga yang memiliki pesawat televisi dihitung tiga lampu, yakni Rp30 ribu.

PLTMH di Desa Wae Laban ini merupakan yang keempat yang dibangun Gereja Keuskupan Ruteng. Sampai April 2017, Manggarai Timur telah memiliki 24 PLTMH, dan 20 PLTMH di antaranya dibangun pemda.

Elar memiliki 21 desa yang semuanya masuk kawasan hutan. Di sini terdapat puluhan air terjun yang airnya dimanfaatkan warga untuk mengairi persawahan dan perkebunan kopi, cokelat, serta vanili.

“Saya berharap dengan adanya PLTMH ini hutan harus tetap dijaga karena penentu ada atau tidak adanya air untuk menghasilkan listrik adalah hutan,” harap Kasubdit Ekologi Kementerian LHK Nuraeni.

“Sekarang kami sudah bisa belajar dengan baik karena ada listrik, bisa nonton televisi, bisa mengakses internet,” kata Jesi Surung, siswa Kelas 1 SMA Negeri 1 Elar. (Palce Amalo/N-4)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...