Tanah untuk Presiden

Ronny Hartono ingat betul suasana di Kota Sampit, Kalimantan Tengah, pascakonflik yang terjadi di sana pada 2001. Kala itu, meski sudah berselang dua bulan, tapi situasinya masih ‘panas’. Ia tak kuasa menahan air matanya ketika itu.

Tak lama setelah melihat langsung kondisi Kota Sampit pascakonflik, Ronny juga sempat menjadi saksi tragedi yang terjadi di Ambon, Maluku, yang mengatasnamakan agama. Dua kejadian tersebut Ronny lihat langsung dengan kedua matanya.

Dia pun mengaku trauma dengan kejadian-kejadian seperti itu. Maka, pria asal Kendal, Jawa Tengah, ini pun berharap hal seperti itu tak lagi terjadi di negeri yang sangat ia cintai.

“Saya sebagai anak bangsa merasa sangat sedih dengan konflik-konflik itu. Yang saya inginkan, bangsa ini semakin indah. Kita bisa menerima perbedaan yang ada. Akan semakin kuat kalau kita bisa bersatu,” kata pelaku ekspedisi Tanah Air ini kepada Republika.co.id, Selasa (27/6).

Rasa cintanya terhadap ibu pertiwi, Ronny tunjukkan dengan cara yang tak biasa. Sejak 2001, dia kerap melakukan ekspedisi ke seluruh wilayah Indonesia. Bahkan, saat melihat dua kejadian tadi pun, dia sedang melakukan ekspedisi mengelilingi Indonesia dengan berjalan kaki. Ekspedisi pertamanya yang berlangsung selama kurang lebih empat tahun, empat bulan, lima hari hingga 2006.

“Di Indonesia sudah beberapa kali melakukan ekspedisi. Saya pernah berjalan kaki dari Sabang sampai Merauke pada 2001. Setelah itu, saya melakukan ekspedisi gowes sepeda melalui empat penjuru mata angin Nusantara,” ujar Ronny saat dijumpai Republika.co.id, di sekitar Weleri, Kendal, Jawa Tengah.

Saat diwawancarai pada hari lebaran 25 Juni 2017 lalu, Ronny memang hendak pulang ke rumahnya di Kendal, Jawa Tengah. Keringat cukup membuat wajahnya mengkilap terkena cahaya terik matahari. Ia baru saja kembali dari perjalanan menuju Bogor, Jawa Barat, untuk bersilaturahmi menggunakan sepeda onthelnya.

Selama 18 hari, dia mengayuh sepedanya onthelnya itu untuk bersilaturahmi dengan Pendaki Indonesia di Bogor. Selain itu, sebelumnya Ronny juga bersilaturahmi dengan Wanadri di Bandung. Dia juga sempat singgah di Jakarta dan Tasikmalaya.

Penampilan sepeda onthel yang digunakan Ronny cukup mencolok. Bendera beserta tiang-tiangnya ditaruh di bagian belakang sepeda. Sehingga, ketika berjalan bendera itu berkibar terkena angin. Bukan itu saja, kerangka besi sepeda onthel tersebut dipenuhi stiker. Bendera dan stiker itu berasal dari beragam komunitas. Komunitas-komunitas yang dia temui saat sedang melakukan ekspedisi dan perjalanan.

“Ini ada dari Pendaki Indonesia dan Komunitas Sepeda Tua Indonesia yang paling baru. Sebenarnya banyak, tapi saya nggak bawa semua. Karena, kita gowes kalah sama angin, berat, makanya kita pelan-pelan. Kalau bawaan dari rumah itu peralatan shalat, peralatan mandi, dan peralatan sepeda,” ungkap dia.

Ronny menjelaskan, saat ekspedisi gowes melalui empat penjuru mata angin nusntara, dia melalui Sabang, Merauke, Pulau Miangas, dan Pulau Rote. Setelah ekspedisi itu, dia kembali melakukan ekspedisi unik lainnya. Dengan menggunakan sepeda onthelnya, ia berhasil menaklukkan 45 gunung yang ada di nusantara. Ekspedisi itu berhasil ia lakukan hingga akhir tahun 2015.

“Kemarin dari pendakian 45 puncak itu mendapatkan penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia, LEPRID. Totalnya ada 48, tapi yang diakui hanya 45 saja,” ujar Ronny.

Banyak kisah yang dilalui oleh Ronny ketika melakukan ekspedisi-ekspedisi itu. Wilayah yang membuatnya paling berkesan adalah ketika dia datang ke tanah Papua dengan berjalan kaki. Di sana, dia bertemu dengan lebih dari 24 suku, terutama suku Dani di Wamena dan suku Yali.

Dia juga sempat melihat langsung perusahaan penambang emas asal Amerika Serikat yang ada di Timika dan Mimika. Ia juga mengisahkan gunung terekstrem yang pernah didaki dengan menggunakan sepeda onthel. Menurutnya, Gunung Leuseur di Aceh-lah yang paling ekstrem. Selain medannya yang cukup terjal, di sana juga dia kerap bertemu dengan ular dan harimau.

“Apalagi di sana itu populasi harimau terbesar. Tapi yang penting kita tidak mengganggu mereka. Sehingga, kita pun tak diganggu mereka. Saya alhamdullah tidak diganggu,” tutur dia.

Berkat ekspedisi-ekspedisinya itu juga, Ronny bisa bertemu dengan tokoh-tokoh yang ada di penjuru Indonesia. Seperti saat ia mendaki Gunung Tilongkabila di Gorontalo, Sulawesi. Dia bertemu dengan keluarga besar Pahlawan Nasional Indonesia asal Gorontalo Nani Wartabone. Kemudian untuk tokoh nasional, dia sudah bertemu dengan Presiden ke-4 RI Megawati Soekarnoputri dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo.

Meski sudah bertemu banyak tokoh, Ronny mengaku, belum pernah bertemu dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi. Rencananya, ia akan mencoba untuk menemui Jokowi setelah melakukan ekspedisi bertajuk Ekspedisi Cinta Tanah Air. Bila tak ada hambatan, ekspedisi tersebut akan berlangsung pada November tahun ini.

“Saya mau lakukan ekspedisi ke delapan penjuru Nusantara. Di tiap ujung itu, saya ambil tanahnya yang kita masukkan ke botol mineral. Tanah Ibu Pertiwi. Nanti, separuhnya akan dikasihkan sebagai kado spesial ke Bapak Presiden,” jelas dia.

Pria yang sudah jatuh cinta terhadap kegiatan alam sejak usia 11 tahun ini tak ingin pertemuannya dengan Presiden biasa-biasa saja. Ia ingin bertemu dengan cara yang unik dengan perjuangan yang cukup luar biasa di belakangnya. Perjuangan yang sekaligus dimaksudkan untuk melihat secara langsung seperti apa Indonesia itu.

“Pada dasarnya, kita sebagai anak bangsa mengenal Indonesia dari internet, surat kabar, TV. Tapi, lebih indah dan lebih cantik bila kita secara langsung mengetahuinya. Saya ingin merasakan bagimana perjuangan yang benar-benar, dengan merasakan rasa sakit, capek, lelah. Jadi, kita ingin menikmati suasana perjalanan dengan enjoy,” kata Ronny.

Rasa sakit, capek, dan lelah yang akan diterima oleh Ronny akan ia tak rasakan. Cantik, indah, dan eloknya Tanah Air akan menghapus rasa-rasa tersebut. Menurutnya, akan sayang apabila keindahan tersebut dibiarkan begitu saja.

Ke depannya, Ronny berencana untuk melakukan ekspedisi mendaki Gunung Kilimanjaro di Afrika Selatan pada 2018. Tentunya, dengan menggunakan sepeda onthelnya tadi. Pada pertemuannya dengan Jokowi nanti, apabila terjadi, dia akan meminta restu dan dukungan untuk berangkat ke salah satu dari tujuh gunung tertinggi dunia itu.

Terakhir, sebelum Ronny melanjutkan perjalanannya ke Kendal, dia berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Dia merasa, saat ini, suasana persatuan di negeri yang dicintainya cukup kurang bagus. Tapi, menurutnya, kita harus menjalani itu semua dengan kepala dingin dan melakukan pendekatan satu sama lain. Kalau ada masalah, kita seharusnya mencoba untuk duduk bersama, mengatasi semua kejadian yang ada.

“Harapan saya, Indonesia ke depannya, saya sebagai anak bangsa yang mencintai Tanah Air dengan tulus, saya ingin segenap anak bangsa juga mencintai Indonesia dengan tulus. Untuk Bapak Presiden Jokowi, tetap belajar dan terus berkarya untuk negeri ini,” ucapnya. Ronny pun kembali mengayuh sepeda onthelnya menuju Kendal.

Sumber Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...