Tambatan Hati si Binatang Jalang

TIAP tahun, di saat peringatan ulang tahun Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi, pemerintah setempat selalu mengadakan acara tapak tilas peristiwa Karawang-Bekasi. Nama penyair sajak Karawang-Bekasi pun diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Bekasi.

Melalui sajak itu, Chairil Anwar mencoba mendeskripsikan dahsyatnya peristiwa yang terjadi di antara Karawang-Bekasi pada 1945-1949. Namun, banyak yang mempertanyakan mengapa Bung Chairil menggambarkan tragedi itu dengan judul <>Karawang-Bekasi (judul aslinya).

“Kenapa bukan sebaliknya, Bekasi-Karawang? Ini merupakan pertanyaan dalam benak saya dan banyak orang,” ungkap sejarawan asal Bekasi, Ali Anwar.

Pasalnya, jika dilihat dari urutan waktu peristiwa, aksi perlawanan tentara dan masyarakat Indonesia berawal dari Bekasi hingga merembet ke Karawang.

Ali menduga sajak Karawang-Bekasi lahir murni dari sudut pandang sang pencipta. Tak banyak yang tahu, Chairil yang kini tersohor dengan label penyair itu rupanya bagian dari arus massa yang mengungsi hingga ke Karawang.

Chairil lahir di Medan, Sumatra Utara, 26 Juli 1922 lalu pindah ke Jakarta di usia 19 tahun bersama ibunya, saat kedua orangtuanya bercerai. Si ‘Binatang Jalang’ lewat puisinya berjudul Aku tersebut membawa ibunya mengungsi ketika Jakarta praktis dikuasai sekutu-NICA pada 1947.

Mayoritas pengungsi yang tinggal di timur Jakarta mengungsi ke daerah Tambun, Cikarang, Lemahabang, Kedunggede, Karawang, Cikampek, dan terus ke timur. Saat berada di Karawang, Chairil menikahi Hafsah, gadis asli Karawang.

“Karena menetap di Karawang itulah, Chairil menjadikan Karawang sebagai pusat sudut pandangnya untuk berpikir, menggagas, dan melangkah sehingga bila dia hendak ke Bekasi, dia harus menapak dari Karawang terlebih dahulu, bukan dari Jakarta. Mungkin itu latar belakang pemikiran puisi Karawang-Bekasi,” jelas Ali.

Ketika puisi Chairil berjudul Aku dibuat sebagai sebuah film, Sumandjaja selaku sutradara mengambil set Karawang sebagai latar belakang film. Misalnya saja adegan Chairil-Hafsah yang tengah berlari di depan rumah saat Belanda membombardir kota itu.

Dari situ, lanjut Ali, amat kentara bahwa sebagai penulis skenario dan sutradara Sumandjaja mendeskripsikan lewat adegan demi adegan bahwa Chairil memandang segala sesuatu dari Karawang. Itulah mengapa hal itu berpengaruh pada tiap syairnya.

“Kalaulah Chairil Anwar selama perang kemerdekaan menetap di Jakarta atau Bekasi, mungkin judul sajaknya bukan Karawang-Bekasi, melainkan <>Bekasi-Karawang,” imbuh dia.

Sudut pandang itu juga diperkuat persepsi para pejuang yang menjadikan Karawang sebagai pusat pengaturan strategi pertahanan, sedangkan Bekasi sebagai basis pertahanan terdepan. Itu sebabnya para pejuang dan penerusnya menjuluki Karawang sebagai ‘Kota Pangkal Perjuangan’, sedangkan Bekasi sebagai ‘Kota Patriot’.

“Bekasi merupakan garda terdepan basis pertahanan perjuangan, sementara komando tersebut datang dari Karawang,” ujar Ali.(Gan/J-1)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...