Surat pribadi Kepada sahabat-sahabatku Pengurus dan Kader Partai Republik

Surat pribadi
Kepada sahabat-sahabatku
Pengurus dan Kader Partai Republik

Izinkan aku mengutarakan pikiran pikiran dan suara hatiku mengenai partai politik.

Sejujurnya banyak orang membenci politik di negeri ini. Mereka alergi. Mereka mual. Muntah muntah. Ini tak lain karena mereka melihat tokoh tokoh politik yang tak memberi teladan kebaikan.

Politisi kerap dianggap kucing kurap. Melihatnya pun ogah. Apalagi salaman.

Tapi hanya politik yang membuat rakyat kita rindu. Semua orang bicara politik. Jutaan. Ratusan juta bahkan. Yang membenci politik bahkan menjadi yang paling jatuh cinta pada politik.

Itulah politik. Semantiasa dibenci tapi juga dinanti. Dirindu setengah mati. Dibela jiwa raga. Bukan hanya harta jiwa raga dikorbankan demi politik. Bahkan mati pun siap. Begitulah roh politik.

Kita baru saja mengalaminya. Ketika pilkada DKI  digelar, seantero rakyat di negeri ini bicara politik. Di warung warung, di kedai, gedung-gedung, kantor-kantor bahkan hingga di pasar dan di jalanan di tempat ibadah masjid gereja wihara kuil kuil dan di gunung, lembah, dan sungai hingga di lautan luas semua bicara Pilkada DKI.

Saya menyadari bahwa politik itu bukan hanya seni bernegosiasi. Politik adalah perjuangan ide-ide, perjuangan gagasan- gagasan untuk mewujudkan tujuan dan  cita-cita.

Rakyat membenci politik karena politik dimaknai sangat prakmatis yakni jual beli suara, transaksi kepentingan, dan tukar menukar jabatan dan uang. Akhirnya politik dipahami sebagai bisnis.

Investasi politik diartikan sebagai pinjaman modal yang berbunga dan harus kembali dua lima kali lipat.

Kita harus meluruskan bahwa politik adalah perjuangan kata-kata, bersatunya kata dan perbuatan. Investasi politik tidak hanya sebatas ucapan dan uang. Jiwa dan raga bahkan dipertaruhkan demi politik.

Bahwa ada pikiran bahwa politik adalah bisnis, itulah pikiran picik dan sempit. Bahwa dengan bisnis, politik bisa matang dan bergerak, itu pikiran para rentenir dan bromocorah yang hidupnya penuh perselingkuhan politik, yang tak jujur dan bukan pembela rakyat. Bagaimana mungkin bisnis dilakukan dalam bingkai politik. Jangan jangan semua uruasan politik dibisniskan.

Bukan begitu sahabat…..

Saya saat ini sedang galau memikirkan perselingkuhan ini. Ada dua perselingkuhan.

Pertama, orang memcaci maki politik dan mencemooh siapa pun yang bekerja untuk politik. Sayangnya pada kesempatan berbeda mereka menjadi penyokong paling radikal kegiatan politik bahkan menyiapkan waktu pikiran dana bahkan nyawa dan air mata nya untuk politik.

Kedua, orang yang membisniskan politik…berselingkuh dengan politik. Menjadikan semua aktivitas politik adalah bisnis dan semua bisnis adalah politik.

Semoga kita semua menyadari bahwa hal itu tidak benar…

Jakarta 23 april 2017

Salam
HB Arifin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sabar, mudah diucapkan, namun membutuhkan keyakinan yg mendalam utk secara konsisten dilakukan.

Oleh Marsma TNI (Purn) H. Juwono Kolbioen, Ketua DPP Partai REPUBLIK Sabar, mudah diucapkan,  namun ...