SG Tuban Sulap Lahan Kapur Jadi Hutan

JAJARAN pepohonan di kanan kiri jalan nampak lebat dan mendatangkan semilir hembusan angin. Panas terik matahari siang, terganti dengan keteduhan rimbunnya dedaunan pohon yang menjorok di atas jalan hingga bagian tengahnya, Jumat (21/4).

Dalam hati bertanya, di mana lokasi tambang lahan kuari batu kapur seluas 797,4 hektar (ha) milik PT Semen Gresik (SG) Tuban. Sepanjang perjalanan yang nampak hanya pohon-pohon jati, sengon, johar dan mahoni yang daunnya sangat rimbun.

Baru sekitar 15 menit kendaraan masuk lebih jauh, terlihat lahan tambang kuari batu kapur yang nampak seperti seleret warna putih. Lantaran, di sekitar area tambang justru didominasi warna hijau dari dedaunan pohon-pohon. Bahkan usut punya usut, hutan yang terlewati sebelumnya, ternyata sebelumnya adalah lahan tambang batu kapur.

Gambaran lahan batu kapur yang dulunya tandus dan dipenuhi tumbuhan berupa semak belukar, disulap menjadi kawasan hutan. Bahkan dari kejauhan nampak, pabrik PT SG Tuban tersembul dari lebatnya hutan yang ada di sekelilingnya.

“Reklamasi bekas tambang ditangani serius, sehingga lingkungan terjaga dan bahkan tertata lebih baik. Karena semua direncanakan secara terinci dan cermat, agar lingkungan tidak rusak. Sehingga, semuanya terutama masyarakat
sekitar, bisa mendapatkan manfaat dari lingkungan yang hijau itu,” kata Kepala Departemen Komunikasi dan Sarana Umum PT SG Tuban, Aris Sunarso.

Lahan tambang kuari batu kapur PT SG Tuban seluas, 797,4 ha yang terdiri dari lahan selesai ditambang seluas 52,54 ha. Lahan aktif sebesar 393,52 ha dan lahan dibuka seluas 446,06 ha.

Lahan seluas 797,4 ha itu, sebesar 40,29 ha merupakan greenbelt (sabuk hijau) dengan 18.991 batang pohon yang dikelola atau dikerjasamakan dengan 327 petani. Selain itu juga terdapat 83,23 ha hutan dengan 119.785 pohon, dari reklamasi tambang yang sudah selesai maupun masih aktif.

“Lahan yang selesai ditambang sebanyak 52,54 ha itu, semuanya sudah jadi hutan. Untuk lahan yang masih aktifpun, kami tidak menunggu seluruh lahan aktif selesai ditambang dan sebagian sudah direklamasi. Makanya total lahan yang sudah jadi hutan mencapai 123,52 ha dengan 138.776 pohon,” ujar Kepala Biro Reklamasi Tambang, Eko Purnomo.

Dijelaskan, untuk merubah lahan kapur yang tandus dan gersang menjadi hutan, penambangan dilakukan secara terencana, didahului pembuatan greenbelt untuk meredam debu dan getaran peralatan serta kendaraan yang melintas. Selanjutnya dilakukan pengupasan lapisan top soil untuk disimpan dalam top soil bank. Kemudian baru dilakukan penambangan lahan batu kapur.

Dari amdal (analisa mengenai dampak lingkungan) yang direkomendasikan, lahan batu kapur minimal berkedalaman 25 meter dan dilakukan secara berjenjang berbentuk teras siring. Tujuannya, dengan kedalaman minimal 25 meter, setelah dilakukan reklamasi, pepohonan akan mudah menyerap air, sehingga cadangan air bawah tanah (ABT) akan semakin meningkat.

“Kedalaman yang kami tambang hingga 30 meter, agar resapan air cepat dan cadangan ABT meningkat. Tapi, di bekas tambangnya harus segera ditanami pohon yang tanahnya diambil dari lapisan top soil yang sebelumnya disimpan.
Sehingga pertumbuhan pohon jadi cepat,” urai Eko.

Hal serupa juga dilakukan di lokasi tambang kuari tanah liat seluas 250 ha di Desa Telogowaru dan 207 ha di Desa Mliwang. Di kedua lokasi lahan itu, yang selesai ditambang seluas 75,59 ha dan 53,24 ha, lahan aktif 23,7 ha dan 51,59 ha serta lahan dibuka 99,29 ha dan 104,83 ha.

Untuk greenbelt seluas 8,82 ha dengan 8.768 pohon dan 18,12 ha dengan 17.806 pohon. Sedangkan reklamasi bekas tambang seluas 17,71 ha dengan 30.641 pohon dan 28,76 ha dengan 47.067 pohon.

Dari total tambang kuari tanah liat yang selesai ditambang seluas 128,83 ha, tidak semuanya ditanami pepohonan. Sebagian atau sekitar 72 ha direklamasi untuk pembuatan embung yang airnya digunakan untuk irigasi pertanian, sehingga areal persawahan disekitarnya tak lagi menjadi sawah tadah hujan.

“Untuk kedalaman tambang kuari tanah liat ini, rekomendasi amdalnya adalah 0 mdpl (meter di atas permukaan laut). Agar tidak merusak cadangan ABT yang juga diimbangi dengan kedalaman di tambang kuari batu kapur,” imbuh Eko.

Dengan pola penambangan seperti itu, PT SG Tuban justru melakukan penataan lingkungan disekitarnya menjadi seimbang. Ini terbukti dari hasil pengukuran cadangan ABT pada sumur pantau di empat lokasi, yang dilakukan setiap bulan sejak 1992 sebelum kegiatan tambang dimulai. Pengukuran pada 1992 di wilayah pantau (WP) 1 di Desa Temandang, deposit ABT terukur 5,12 meter. WP2 Desa Tobo deposit sebesar 5,34 meter, WP3 Desa Sugihan deposit sebesar 6,28 meter dan WP4 Desa Banaran deposit 3,77 meter.

Selama kegiatan tambang berlangsung, pengukuran dilakukan rutin setiap bulan dan hasil terakhir pada akhir Maret 2017 lalu, deposit ABT mengalami peningkatan. Tercatat di WP1 deposit ABT sebesar 5,53 meter, WP2 deposit 5,85 meter, WP3 deposit 6,81 meter dan WP4 deposit mencapai 4,25 meter. (OL-5)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...