Saat Pemuda Kembangkan Potensi Desa

SUASANA Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi ramai, berbeda dari biasanya. Suasana desa yang alami dengan lahan pertanian dan sawah mengalami perubahan. Sebuah kafe berada di tengah sawah tanpa merusak lingkungan.

Kafe Sawah yang diinisiasi para pemuda desa yang didukungan Kepala Desa Udi Hartoko mendapatkan respons positif. Sejumlah fasilitas dibangun dengan memanfaatkan 7.000 meter persegi tanah bengkok atau tanah kas desa, seperti gazebo, rumah bambu, dan tempat duduk.

Pengunjung cukup membayar Rp5.000 per orang, yang bisa ditukarkan dengan makanan dan minuman. Bahkan, dengan tambahan ongkos Rp90 ribu, pengunjung bisa mendapatkan layanan berwisata edukasi keliling desa.

Para pemuda yang tergabung dalam lembaga desa wisata atau dikenal sebagai Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) tidak menyangka kafe mereka akan ramai seperti saat ini, apalagi setelah
foto-foto kafe diunggah ke media sosial.

“Kafe Sawah berdiri termotivasi untuk mengembangkan pariwisata.
Sebelumnya, warga pesimistis. Justru sekarang ramai dan memberikan manfaat luas bagi warga,” tegas Koordinator Wisata Edukasi Mustafi rli Asror kepada Media Indonesia, Jumat (19/5).

Kegiatan ekonomi desa itu mendapatkan dukungan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sumber Sejahtera Pujon Kidul untuk usaha air minum. Mereka juga bekerja sama dengan BNI untuk pendanaan.

Kini pengunjung rata-rata 500-3.000 orang per hari. Karena pernah melebihi kapasitas, pengelola memberikan batas waktu berkunjung. “Laporan pemasukan dari hasil Kafe Sawah pada April mencapai Rp400 juta. Pernah sehari ada pemasukan Rp50 juta,” katanya.

Ketua Bumdes Prayitno mengungkapkan saat ini mempekerjakan 40 orang dengan bayaran Rp1 juta-Rp1,5 juta per bulan. Keuntungan kafe dimasukkan ke kas desa untuk pengembangan pariwisata dan kegiatan sosial. Dampaknya jumlah warga miskin berkurang hingga tersisa 350 orang saja.

Kunci keberhasilannya tak lepas dari kerukunan warga. Kader Pokdarwis yang sebagian besar pemuda yang ke seharian bertani dan peternak sapi perah tergerak membangun desa. Mereka berpandangan lebih baik mengembangkan potensi di desa ketimbang bekerja jadi buruh di kota.

Sayangnya keberhasilan itu perlu dibarengi penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Alasannya, banyak warga yang hanya lulusan SMP, bahkan masih ada yang buta huruf.

Mengeksplorasi keindahan desa untuk wisata juga dilakukan Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah. Awalnya desa kecil yang terletak di perbukitan berjarak 20 km dari pusat Kota Purbalingga itu hanya didatangi untuk peziarah Syaikh Jambukarang, tokoh penyebar Islam di perbukitan Ardi Lawet. “Kini ada delapan destinasi wisata yang ditawarkan di Desa Panusupan. Mulai dari perbukitan, persawahan hingga air terjun. Seluruh objek wisata itu dikembangkan para pemuda dan warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ardi Mandala Giri,” ungkap Ketua Pokdarwis Ardi Mandala Giri, Yanto Supardi.

Berkembangnya objek wisata, kata Yanto, ditandai dengan ratusan pemuda dan warga yang terlibat. “Bukan hanya mengelola objek wisatanya, tetapi juga parkir, keamanan, dan kebersihan. Selain
itu, para pedagang yang ikut serta di masing-masing destinasi wisata. Seluruh SDM berasal dari Desa Panusupan,” jelasnya. Tahun lalu saja, ada 148 ribu wisatawan dengan penghasilan mencapai Rp1 miliar. Namun, masih banyak potensi desa yang mereka ingin kembangkan di masa depan.

Industri
Di tempat berbeda sejumlah warga sibuk mencuci buah pisang rojo nongko dan pisang kepok. Setelah bersih, pisang diiris tipis-tipis dan ditempatkan pada wadah tersendiri.

Sriamah, Siti Fatimah, dan Sri sibuk mengaduk potongan pisang itu dengan cairan gula pasir hingga merata. Setelah itu, Syamsul Arifi n menggorengnya dan menaruhnya di meja di samping kompor. Afi da pun bergegas mendinginkan keripik dengan bantuan kipas angin. Setelah pisang dingin, bersama Husnah dan Munifah, ia mengemasnya dalam wadah plastik seberat 1 kg per kemasan.

Syamsul ialah Sarjana Administrasi Bisnis/Administrasi Niaga Universitas Merdeka Malang. Putra Sumarni, mantan TKI itu awalnya menawarkan produknya dari warung ke warung. Respons positif konsumen mengantarkannya merambah supermarket di Surabaya. Bahkan, distributor camilan mulai kepincut. “Kami merintis dari bawah. Sering jatuh bangun. Bahkan, menawarkan keripik pisang sering ditolak, diremehkan dan tak digubris calon pembeli. Tapi kami tidak menyerah,” tegas Syamsul.

Kini produk keripik pisang Desa Tumpukrenteng banjir pesanan. Ia sampai kesulitan memenuhi banyaknya permintaan
menjelang Ramadan tahun ini. Omzet usaha keripik yang dijual Rp15
ribu per kg dengan kapasitas produksi 2 ton mencapai Rp50 juta. Keuntungannya bisa 30%.

Tak ingin sukses sendiri, ia mengajak pemuda dan warga lain mengikuti jejaknya. Tak hanya keripik pisang, ia merambah cabai bubuk.

Kepala Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, Malang, Helmiawan Khodidi, mengatakan pemerintah desa memfasilitasi perajin dan pelaku UMKM lainnya melalui berbagai pelatihan, pembinaan, dan permodalan. Bahkan, mereka mengusahakan bantuan peralatan mesin. “Kami mengembangkan potensi desa agar warga tidak tergerak urbanisasi dan kerja ke luar negeri,” kata Helmiawan. Kini TKI asal desanya menurun, dari 500 menjadi 200 orang.

Keberhasilan juga dirasakan Ahmad Sobirin yang meningkatkan kesejahteraan. Hal itu kini juga dirasakan 115 petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (Kube) Manggar Jaya. “Sampai sekarang mereka awet dan setia bersama Manggar Jaya karena
harga jual gula semut mencapai Rp14 ribu. Padahal, kalau hanya menjual gula merah harganya di bawah Rp10 ribu,” ujarnya.

Setiap hari petani penderes mampu menyetor sekitar 5-7 kg gula kristal. Dengan harga Rp14 ribu, mereka bisa mendapatkan Rp70 ribu per hari, bahkan ada yang mampu menghasilkan Rp140 ribu per hari.

Kedepan ia berharap bisa melakukan sertifi kasi sehingga meningkatkan harga gula kristal mencapai Rp20 ribu per kg. Namun, itu butuh dana besar. Untuk 100 petani, misalnya, harus ada dana US$3.500. (Liliek Dharmawan/M-4)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...