Riset dan Industri Harus Sejalan

KESENJANGAN hasil riset dengan industri harus bisa diatasi dengan cara bersinergi, yaitu sinergi antara perekayasa yang menghasilkan inovasi dan industri sebagai tempat memproduksi hasil inovasi itu, serta masyarakat sebagai pengguna.

Hal itulah yang menjadi bahasan penting dalam kegiatan Science and Technology in Society (STS) Forum and Industry yang diselenggarakan di Bali pada 19-20 April.

Kegiatan yang sudah dilakukan sejak 2014 ini, negara-negara ASEAN yang tergabung dalam forum tersebut bergiliran sebagai tuan rumah.

Indonesia baru tahun ini menjadi tuan rumah forum workshop ASEAN-Jepang itu.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyatno membuka acara yang dihadiri pembicara Tomihiro Toniguchi, penasihat senior STS Forum & Industry, Yasushi Akaheshi, Presiden Japan External Trade Organization, Jusman Syafii Djamal, Direktur Matsushita Global Foundation Indonesia, dan Muhammad Dimyati, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Ristek dan Perguruan Tinggi. Hadir pula delegasi dari negara-negara ASEAN.

Kepala BPPT, Unggul Priyatno, dalam sambutannya mengatakan bahwa inovasi teknologi merupakan kunci pembangunan nasional.

“Untuk itu dibutuhkan kerja sama atau sinergi antara pemerintah, swasta, dan kalangan akademisi yang biasa disebut dengan sinergi akademisi, bisnis, dan pemerintah. Supaya tidak ada kesenjangan antara hasil riset dengan industri, maka sinergi ini penting. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah dan industri harus ditingkatkan. Selama ini masih sendiri-sendiri,” ujar Unggul.

Muhammad Dimyati, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Ristek dan Perguruan Tinggi menambahkan, pemerintah sudah mengupayakan mengurangi kesenjangan itu dengan mengajak peneliti dan industri bekerja sama sejak awal.

“Jadi peneliti dari perguruan tinggi dan industri berjalan bersama-sama dari hulu sampai hilir. Ini lebih efisien dan sudah terbukti menghasilkan. Bentuk kerja sama ini adalah konsorsium,” terang Dimyati.

Model konsorsium sudah dilakukan sejumlah industri berkolaborasi dengan peneliti, baik dari lembaga riset maupun perguruan tinggi beberapa tahun lalu.

Seperti konsorsium pembuatan roket, panser, dan kapal perang.

Pemerintah, lanjut Dimyati, akan membuat peraturan masalah pendanaan ini.

Saat ini ada 43% anggaran penelitian berasal dari kalangan industri, dalam bentuk konsorsium riset.

Sisanya berasal dari pemerintah.

Sumber MediaIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...