Petani semakin Terlindungi

SAAT ini pemerintah telah memberikan jamin-an harga ataupun jaminan pasar bagi para petani. Terlebih pasar dalam negeri saat ini terus meningkat dari waktu ke waktu.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencontohkan, saat ini masyarakat membutuhkan sekitar 7 juta ton jagung per tahun. Menurut dia, dulu para importir bahan pangan pokok lebih senang mengimpor dari negara luar karena akses yang sulit sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi lebih mahal. Dengan adanya solusi yang diberikan pemerintah saat ini untuk menyerap seluruh hasil produksi petani, kata dia, diharapkan tidak ada lagi petani yang merugi sehingga semua pihak dapat menikmati hasilnya serta mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Jadi saat ini petani tidak usah takut. Dulu petani tidak dipertemukan dengan pasarnya, para importir terus mengimpor dan petani juga terus menanam. Saat ini petani mendapatkan jaminan harga dan pasar dari pemerintah,” jelas Mentan seusai rapat koordinasi gabungan di Kantor Badan Litbang Pertanian, Jakarta, kemarin. Selain soal pengembangan pangan di wilayah penyangga kota besar, rapat tersebut juga membahas pengembangan lumbung pangan di wilayah perbatasan negara.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk membangun bangsa mulai dari wilayah pinggiran, sebagai tindak lanjut Mentan menginstruksikan seluruh bupati yang berada di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Karimun, Lingga, Entingkong, Merauke, Sambas, Belu, dan Malaka untuk mempersiapkan dan membuka wilayah mereka seluas-luasnya sebagai gerbang ekspor ke negara tetangga. “Kita akan membangun daerah perbatasan sebagai lumbung pangan sesuai keunggulan komparatif dan sesuai kultur masyarakatnya,” tegas Mentan.

Pujian presiden

Saat ini Kementan akan fokus mengekspor beras organik dan jagung ke negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Malaysia, misalnya, setiap tahunnya mengimpor 3 juta ton jagung yang setara dengan Rp20 triliun. Hal itu, kata Amran, tentu jadi peluang besar bagi sejumlah kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tersebut seperti Entikong, Sambas, Nunukan, dan Bengkayang untuk dapat mengekspor hasil produksi mereka.

“Malaysia dan Filipina senang dengan produksi jagung kita, sekitar 6 juta-7 juta ton jagung per tahun kebutuhan negara itu. Jadi kabupaten-kabupaten tersebut harus bisa mengisinya,” jelas Mentan.

Untuk mendukung hal itu, Kementan menganggarkan bantuan benih unggul senilai Rp2 triliun. Nantinya benih tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan produksi. “Kita akan siapkan benih apa saja yang dibutuhkan, tetapi harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bukan dari kebutuhan proyek” tegasnya.

Kinerja Kementerian Pertanian itu mendapat apresiasi dari Presiden Joko Widodo. Saat membuka Pekan Nasional Petani Nelayan Ke-15 di Stadion Harapan Bangsa, Gampong Lhong Raya, Banda Aceh, Provinsi Aceh, akhir pekan lalu, Jokowi mengatakan,

“Dulu Indonesia dikenal rajin impor pangan, seperti beras dan ja-gung. Dua tahun ini kita aman tidak impor beras, bahkan sekarang jagung tidak impor lagi bahkan ekspor.” Selain jagung, komoditas lain yang memiliki peluang untuk dapat diekspor ke negara tetangga, menurut Amran, ialah beras organik. (E-2)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...