Pesan Keberagaman dari Masjid Cheng Ho

Satu hal yang selalu diingatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika berkunjung ke suatu tempat yaitu keberagaman suku, agama, budaya dan bahasa yang dimiliki bangsa Indonesia.

Apa yang disampaikan Presiden sebenarnya sudah menjadi kekuatan akar budaya bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala. Ini yang harus terus dijaga. Toleransi adalah semangat yang mendasari kehidupan sehari-hari masyarakat dari seluruh suku-suku yang ada.

Keberagaman Indonesia salah satunya terlihat dari masjid Cheng Ho yang berada di sejumlah kota di Indonesia. Masjid Cheng Ho yang kental dengan nuansa Tiongkok, didirikan mengenang perjuangan dan dakwah Laksamana Cheng Ho, tokoh angkatan laut Tiongkok yang beberapa kali datang ke Nusantara menyebarkan Islam. (Baca tulisan sebelumnya: Masjid Cheng Ho, Jejak Syiar Islam Sang Laksamana Tiongkok). 

Di Jawa Timur, masjid Cheng Ho terdapat di Surabaya dan Jember, selain Masjid Cheng Ho Pasuruan, dan yang baru diresmikan tahun 2016 adalah Masjid Cheng Ho Banyuwangi. Di luar Jawa juga terdapat di Palembang, Sumatera Selatan, Kutai Kartanegara, Kaltim hingga Makassar, Sulawesi Selatan.

Keberadaan Masjid Muhammad Cheng Ho menjadi bukti bahwa Islam adalah salah satu agama leluhur di tanah Tiongkok (China). Masjid Cheng Ho mengemban syiar Islam bagi mualaf dan masyarakat umum untuk mendapatkan informasi dan pembinaan tentang ajaran Islam yang benar secara utuh.

Keberadaan Masjid Cheng Ho tak bisa dilepaskan dari peran organisasi Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), sebuah organisasi yang merupakan wujud harmoni antara Islam dan etnis Tionghoa Indonesia. Persepsi yang menganggap etnis Tionghoa itu identik dengan non Muslim tak berlaku jika kita melihat fakta keberadaan masjid Cheng Ho. Persepsi itu pada dasarnya memang merupakan suatu konstruksi politik yang dibangun atas dasar kepentingan tertentu. Kenyataannya, di Masjid Cheng Ho Surabaya kita bisa melihat dengan jelas bagaimana Muslim Tionghoa Indonesia bersama-sama dengan orang Jawa, Batak dan suku-suku lain menyatu dalam kekhusukan ibadah.

Fakta seperti di Masjid Cheng Ho Surabaya itulah yang sebenarnya harus dijaga dan dipertahankan oleh seluruh warga masyarakat Indonesia. Fakta seperti itulah yang menjadi cita-cita bersama para pendiri bangsa Indonesia dan hingga kini terus diingatkan Presiden Jokowi.

“Saya ingatkan bahwa Indonesia ini negara besar. Kita memiliki 17 ribu pulau, 516 kabupaten/kota, 34 propinsi, 714 suku yang beragam dan 1100 bahasa lokal yang berbeda-beda,” demikian berulang-kali Presiden mengingatkan rakyat Indonesia. Ini artinya keberagaman memang merupakan jatidiri bangsa Indonesia. Dalam keberagaman itu tugas dan kodrat bangsa Indonesia adalah menjalin persatuan dan kesatuan.

Di Masjid Cheng Ho Surabaya yang berlokasi di kawasan pusat kota Surabaya, masyarakat tidak tersekat-sekat oleh perbedaan suku maupun agama. Pintu masjid yang dibiarkan tanpa daun pintu menegaskan bahwa Masjid Cheng Ho Surabaya terbuka bagi siapa saja, tanpa melihat golongan atau suku. Saat masuk ke dalam masjid setiap orang harus meninggalkan hal-hal yang bersifat identitas sektarian. “Perbedaan yang ada justru harus memperkaya dan mempererat persatuan, bukan sebaliknya,” tutur Takmir Masjid Cheng Ho Surabaya, Ahmad Hariyono Ong. Dan memang tidak terasa sekat-sekat perbedaan, baik antara Tionghoa Muslim dengan suku-suku lain maupun dalam komunitas internal antara Tionghoa Muslim dan Non Muslim. Salah satu bukti nyata hal ini bisa dilihat dari banyaknya Tionghoa Non Muslim yang memberikan donasi sejak mulai dari pembangunan masjid pada tahun 2001 sampai saat ini untuk berbagai program masjid Cheng Ho.

Masjid Cheng Ho Surabaya sebagaimana masjid Cheng Ho Jember dan lainnya, berada di bawah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI). YHMCHI sebagai induk organisasi terus melakukan langkah-langkah maju untuk masjid demi kemaslahatan umat. Dewan Pembina YHMCHI yang juga penggagas dan pendiri Masjid Cheng Hoo Surabaya adalah H.M.Y Bambang Sujanto. Bambang telah meminta agar YHMCHI dan PITI memegang teguh empat pilar sebagai prinsip utama. Pertama, YHMCHI-PITI harus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Kedua, tidak berpolitik aktif. Ketiga, harus mandiri dalam memajukan YHMCHI dan PITI. Pilar keempat adalah menjadikan YHMCHI-PITI sebagai jembatan antara muslim etnis Tionghoa dengan kelompok masyarakat lain demi kokohnya NKRI.

Dengan adanya 4 pilar itu, masyarakat banyak mendukung berdirinya Masjid Cheng Ho meski mereka berbeda keyakinan. Termasuk masjid Cheng Ho Jember yang baru diresmikan tahun 2015. Meski baru berusia hampir 2 tahun, Masjid Cheng Ho Jember juga sudah mulai mendapat dukungan dari berbagai kelompok masyarakat dan berperan sebagai jembatan antara Muslim Tionghoa dengan kelompok masyarakat lain sesuai pilar keempat YHMCHI.

KETERLIBATAN BUDAYA DAN MASYARAKAT

Berbeda dengan Jawa dan Sumatera, sebagai wilayah yang pernah disinggahi Laksamana Cheng Ho. Masjid Cheng Ho di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur punya cerita menarik. Walau tidak ditemukan rujukan dalam sejarah apakah Laksamana Cheng Ho pernah sampai di Kalimantan, tapi Masjid Cheng Ho berdiri gagah diatas bukit di Desa Batuah, Loa Janan, Kutai Kartanegara. Masjid ini dibangun seorang warga keturunan Tionghoa sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan Laksamana Cheng Ho dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Yang menarik, tidak satupun pengurus masjid warga keturunan Tionghoa, justru masyarakat setempat yang sebagian besar berasal dari suku Bugis yang mengelola masjid ini.

“Kami terbuka. Siapapun bisa singgah di masjid ini. Ini sudah menjadi ikon desa kami,” kata Ketua Pengurus Masjid Cheng Ho M Yahya.

Di Palembang, khittah perjuangan PITI adalah mempersatukan muslim Tionghoa dan kaum muslim lainnya di republik ini. Selain syiar Islam, keberadaan Masjid Cheng Ho Palembang ingin menyampaikan kepada masyarakat Indonesia bahwa agama Islam sudah lama menjadi agama leluhur di Tiongkok. Unsur Palembang terlihat dari arsitek masjid seperti ornamen tanduk kambing yang menjadi ciri khas Palembang, unsur ini menandakan kebudayaan Palembang banyak kesamaan dengan kebudayaan di China, yang menandakan bahwa kedua kebudayaan ini telah lama menjalin hubungan yang baik.

Sekretariat Yayasan Masjid Cheng Ho Sriwijaya Merry Effendi menerangkan pemakaian nama Cheng Ho, bukan untuk mengkultuskan, tetapi ingin mengingatkan bahwa sikap hidup Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho adalah mengembangkan semangat dakwah dan silaturrahim pada seluruh bangsa di dunia seperti yang diperlihatkan dalam pelayarannya. Merry juga mencontohkan bagaimana hubungan dia dengan saudara-saudara kandungnya yang berbeda agama tetap terjalin baik dan harmonis. Toleransi dan keberagaman inilah yang menjadi kekuatan Indonesia.

Sumber presidenri.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...