Persatuan Bisa Dijalin Melalui Kesetiakawanan Sosial

BELAKANGAN ini semboyan kebhinekaan digaungkan dalam upaya merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Tetapi untuk menjalin hal itu, diperlukan nilai-nilai kesetiakawanan sosial.

Menurut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, kesetiakawanan sosial merupakan salah satu nilai-nilai dasar pembentuk Indonesia yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Akhir-akhir ini media lebih sering membahas mengenai kebhinekaan. Bicara kebhinekaan maka harus satu paket yakni tunggal ika, dan tunggal ika atau kesatuan harus diikat dengan Pancasila. Nilai-nilai kesetiawakanan sosial menjadi penting untuk sekaligus diinternalisisasikan,” tuturnya ketika memberi sambutan pada pembukaan acara peringatan hut ke- 42 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Pendopo Agung Sasono Utomo, TMII, Jakarta, Minggu (16/4).

Menurut Mensos, kesetiakawanan sosial penting untuk diingatkan kembali. Dikatakannya, pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia belum mempunyai tentara ataupun alutsista yang memadai.

Namun, saat itu didasari adanya perasaan yang sama yaitu ketertindasan dan eksploitasi penjajahan, maka keinginan untuk merebut kemerdekaan dibangun diantara para pejuang.

“Pada masa penjajahan, terdapat karakter yang kuat dilandasi nilai kesetiakawanan sosial dan pengorbanan yang mengandung nilai kepahlawanan,” imbuh Menteri Khofifah.

Dari sana, disepakatilah komitmen dan konsensus nasional untuk membentuk suatu bangsa. Menurutnya, konsensus dasar dari bangsa Indonesia adalah Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila yang menjadi landasan nilai-nilai berbangsa.

“Ini menjadi satu hal yang penting untuk kita ingat kembali. Ada satu tujuan bangsa yang telah dirumuskan dalam konsesi kita yaitu Indonesia merdeka yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kita hanya mampu mencapai tujuam tersebut apabila dilakukan besama -sama. Bersama-sama, ini yang menjadi catatan kita, di situlah kesetiakawanan sosial diwujudkan secara nasional,” terang Mensos.

Kesetiakawanan sosial, kata Mensos, merupakan usaha mengajak seluruh komponen bangsa untuk peka terhadap kondisi sosial dalam suasana yang penuh toleransi.

Salah satu wahana bagi masyarakat untuk melihat keberagaman budaya yang ada di Indonesia adalah TMII. Perwujudan keberagaman itu ditampilkan dalam bentuk miniatur Nusantara.

Pada HUT ke-42 TMII yang mengusung tema ‘Perwujudan Keberagaman Budaya sebagai Perekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa, Direktur Utama TMII Bambang Sutanto tujuan didirikannya TMII untuk melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa sekaligus wisata berbasis budaya dan sarana pendidikan bagi masyarakat untuk mempertebal rasa cinta Tanah Air.

Dia menuturkan, keberadaannya sangat bermanfaat bagi Indonesia, Kementerian Pariwisata telah menetapkan TMII menjadi objek vital nasional dalam bidang kebudayaan dan pariwisata. Kementerian Agama telah menetapkan TMII sebagai wahana toleransi dan keberagaman, sementara Kementerian Dalam Negeri menetapkan TMII sebagai wahana perekat bangsa.

“Kementerian Sosial menetapkan TMII sebagai wahana pembentukan jiwa dan sikap kesetiakawanan sosial,” tutur Bambang.

Sama seperti tahun sebelumnya, perayaan HUT ke-42 TMII dikemas dalam beragam kegiatan antara lain Solo Batik Karnival, pesta budaya nusantara, pawai budaya, pameran batik dan kuliner. Acara berlangsung mulai dari 16 April hingga 22 April. (OL-3)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...