Pemprov Sulsel Rekrut 1.000 Pemuda Tangkal Hoax

PEMERINTAH Provinsi Sulawesi Selatan merekrut 1.000 mahasiswa perguruan tinggi sebagai relawan dalam Gerakan Netizen Sulsel, ‘Ayo Santun dan Efektif di Dunia Maya, Tolak Hoax dan Provokasi’.

Dirjen Aplikasi Informatika (Aptika) Direktur Pemberdayaan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Septriana Tangkary, Selasa (18/4), menjelaskan, misi utama kegiatan tersebut untuk melihat sejauh mana kebenaran sebuah berita.

“Sekarang berita bohong banyak sekali. Hampir 91,8% hoax itu pada wilayah sosial politik dan 81% SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Dan dari 295 ribu anak Indonesia, 1.000 di antaranya lebih pintar dari Albert Eistein. Karenanya, berita-berita bohong tidak harus dilanjutkan, harus diredam dan tidak perlu diviralkan,” ungkap Septriana.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sulsel, Andi Hasdullah, mengungkapkan, 1.000 relawan berasal dari 10 perguruan tinggi negeri dan swasta di Makassar. Relawan ini diharapkan menjadi pionir dalam upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat, tentang pentingnya menyebar informasi yang benar.

“Mereka akan ambil bagian memberantas berita-berita hoax. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu tahu bagaimana menyaring informasi tanpa nuansa kebohongan, kebencian, SARA, maupun fitnah,” kata Hasdullah.

Menurut dia, di era modern ini perkembangan informasi melalui media internet tidak bisa terbendung, terutama di media sosial. Dengan mengabaikan kebenaran, muatan provokasi, atau fitnah, sebuah informasi dengan cepatnya berseliweran.

“Karena alasan itu, anak-anak muda ini kami kumpulkan. Mereka akan jadi garda terdepan, kami latih agar melanjutkan gerakan ini di wilayah masing-masing,” ujar Hasdullah.

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan perlu perhatian khusus agar tidak terjerembap pada dampak negatif perkembangan teknologi. Salah satu bentuknya ialah, dengan mudahnya sebuah fitnah, provokasi, dan berita bohong tersebar di medsos.

“Ini hadir di keseharian kita. Untuk menangkalnya tidak cukup pemerintah. Semua pihak harus bekerja keras agar pemanfaatkan teknologi tidak bias, tidak mudarat,” kata Syahrul.

Septriana menambahkan, Sulsel sebagai provinsi kedua setelah Kalimantan Barat yang menggelar gerakan serupa. Gerakan tersebut juga telah hadir pada 101 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

“Gerakan seperti ini memang penting, karena banyak sekali beredar berita bohong. Kita butuh peran pemuda sebagai kalangan terbesar pengguna teknologi dan media sosial,” ujarnya. (OL-2)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...