Panen Cabai setelah Tujuh Tahun Vakum

SENYUM bahagia memancar di wajah Zul Basri, 40, yang sehari-hari sebagai Ketua Kelompok Tani Al Kahfi di Desa Pelompek, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Jambi. Menjelang puasa, ia bersama 15 petani yang merupakan anggota Kelompok Tani Al Kahfi mulai memanen cabai merah. Satu pohon cabai miliknya mampu memproduksi cabai merah hingga 2 kg.

“Alhamdulillah ini berkah luar biasa dari Allah. Sudah lama kami tidak menanam cabai,” kata Zul, saat ditemui Media Indonesia, Senin (8/5). Sekitar 7 tahun lalu, mereka tidak lagi menanam cabai karena terserang virus. Seluruh pohon cabai milik kelompok tani tersebut mati. “Berkat inovasi, motivasi, pelatihan, dan pendampingan tim ahli dari Bank Indonesia, kami bergairah lagi,” kata Zul.

Ia bersama kelompok taninya sempat trauma menanam cabai meski sudah berkonsultasi dengan ahlinya yang dikirim Bank Indonesia. Bahkan, warga setempat tidak mudah diajak menanam cabai kembali. “Enggak mudah Pak. Kami mati-matian memulihkan kemauan dan semangat petani,” ujarnya. Sejak 2 tahun lalu, berkat sering diajak ikut pelatihan budi daya cabai, para petani tergerak menanam cabai. Apalagi, para petani tersebut bertemu dengan para petani yang sudah sukses menanam cabai.

Pada kesempatan itu Syafii, tenaga konsultan pertanian cabai, menjelaskan selama pelatihan para petani diajari bagaimana mengolah tanah dengan mengandalkan pupuk organik dan penggunaan teknologi drip irigasi untuk menjaga kebutuhan air tanaman. Penggunaan pestisida pun dibatasi hanya 1 milimeter per liter air. “Dengan metode itu, untuk satu pohon cabai mampu memproduksi 2 kg cabai,” ujar Syafii.

Keberhasilan para petani cabai ini mendapat dukungan positif dari Camat Gunung Tujuh, Nazif Ediyanto. Ia berharap keberhasilan para petani cabai kelompok Tani Al Kahfi bisa menjadi contoh bagi petani di 13 desa yang berada di lingkup kecamatannya. Kisah sukses para petani cabai Al Kahfi ini juga mendapat apresiasi oleh Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kerinci, Rikhe Evriyantos yang berkesempatan meninjau panen cabai di Pelompek.

Bank Indonesia yang ikut membantu pengembangan budi daya cabai di Desa Pelompek, akan menjadikan contoh untuk daerah lain. “Dari analisis perhitungan per hektare, petani akan dapat sekitar 12 ton per musim panen. Dengan harga Rp20 ribu per kg, petani untung besar. Kita berupaya mengendalikan inflasi dengan menjaga ketersediaan pasokan cabai ,” ujar Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jambi, Melly Ika Permata. (Solmi/N-3)
Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...