Muasal Halalbihalal

“KONSEPNYA sudah lama. Tapi, pembakuan bahasanya baru terjadi belakangan saja,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, mengawali satu versi cerita tentang asal muasal tradisi halalbihalal di Indonesia.

Kepada Metrotvnews.com Said mengatakan, era 1946-1948, Indonesia diramaikan berbagai pandangan dan ideologi kebangsaan yang berbeda-beda. Tak jarang, hal ini menimbulkan pertentangan yang cukup keras di tataran elite politik. Muncullah rasa khawatir dan keprihatinan di dalam benak Presiden Soekarno. Bung Karno takut, perbedaan ide tentang bangsa itu malah melahirkan perpecahan jika tidak mampu diolah dan difasilitasi dengan baik.

Adalah KH Wahab Chasbullah, seorang ulama sekaligus pembesar NU yang kala itu dimintai saran Bung Besar untuk mencarikan jalan keluar. Kiai Wahab, lalu menyarankan agar Istana mengundang tokoh-tokoh bangsa untuk berkumpul dan silaturahmi, mumpung masih dalam suasana Lebaran.

“Silaturahmi sudah terlalu biasa. Saya ingin ada istilah lain,” ucap Soekarno, sebagaimana diceritakan Said, Minggu, 25 Juni 2017.

Lalu, Kiai Wahab menjawab, “Itu persoalan mudah. Para elite politik tidak mau bersatu lantaran mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu, perbuatan dosa. Sementara berbuat dosa itu haram.”

Untuk menghalalkannya, maka, mereka perlu diimbau untuk bertemu dan saling memaafkan.

“Saling menghalalkan. Sehingga dalam silaturahmi itu pakai saja istilah halalbihalal,” tutur Said, mengisahkan penjelasan Kiai Wahab.

Ragam versi
Jauh sebelum itu, lanjut Kiai Said, kebiasaan saling jumpa setelah hari raya sudah menjadi kebiasaan muslim di Indonesia. Bahkan, sejak tahun 1700-an. Pangeran Sambernyawa, salah satunya. Pemimpin Surakarta bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I itu kerap mengumpulkan penggawa dan prajurit untuk sungkem kepada Raja jika Lebaran tiba.

“Jadi, halalbihalal itu tradisi asli Indonesia yang diambil dari unsur bahasa Arab. Padahal, istilah ini tidak dikenal di negeri-negeri Timur Tengah,” kata Said.

Pada 2007, Kompas pernah memberitakan, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Nikolaos Van Dam sempat mengira halalbihalal merupakan lema resmi dalam bahasa Arab. Namun ketika dicari dalam kamus resmi, tidak ada satu pun pengertian yang memaparkan tentang istilah tradisi tersebut. Sementara Panji Masyarakat, pada 1992 menulis, sudah ditemukan dalam kamus bahasa Jawa-Belanda kumpulan Dr. Th. Pigeaud terbitan tahun 1938. Dalam buku itu, halalbihalal dimasukkan ke dalam entri huruf ‘A’ berupa kata ‘alal behalal’. Artinya, saling memaafkan di hari Lebaran dan merupakan suatu kebiasaan khas masyarakat Nusantara.

Makna dasar
Sebelum dibakukan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan halalbihalal lazim menggunakan spasi menjadi halal bihalal, atau halal bi halal. M Quraish Shihab, dalam Lentera Al-Quran: Kisah dan Hikmah Kehidupan (1994) mengatakan, halalbihalal baiknya tidak dikaitkan dengan pengertian hukum. Karena, akar kata ‘halal’ telah membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Termasuk, dalam kasus halalbihalal.

“Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti ‘menyelesaikan problem’, ‘menyelesaikan benang kusut’, ‘melepaskan ikatan’, dan ‘mencairkan yang beku,” tulis Quraish Shihab.

Alhasil, halalbihalal bermakna suatu bentuk aktivitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan kembali hubungan yang sebelumnya bersifat dingin, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan yang menghadang terjalinnya keharmonisan hubungan. Di sisi lain, tradisi halalbihalal harus tetap lestari. Tentu, sebagai ciri betapa ramah dan kuatnya persaudaraan muslim di negeri ini. (MTVN/OL-7)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...