“Menyembuhkan” Bekas Trauma Konflik GAM-TNI dengan Akses Jalan Desa

MEULABOH, Konflik GAM dan TNI yang terjadi di Aceh masih meninggalkan jejak di Gampong Pasir Putih, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. Bekas rumah warga transmigrasi yang dibakar kala itu masih terlihat jelas berdiri kokoh di antara hutan semak belukar yang ditinggal penghuni sejak 2003 lalu saat Aceh dilanda konflik.

“Kami transmigarsi ke sini sejak tahun 1980, namun pada tahun 2003 kami harus mengungsi, sebagian dari kami ada yang kembali ke Jawa saat itu, tapi saya dan keluarga turun mengungsi ke Meureubo”, kata Suginem (50), salah satu warga Pasir Puti kepada Kompas.com, Kamis (13/04/17).

Pasca perdamaian Aceh 2005 lalu, kata Suginem, sebagian warga transmigrasi dari berbagai daerah yang didatangkan dari Jawa mulai kembali dipulangkan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat ke lokasi transmigrasi, termasuk salah satunya ke lokasi satuan penempatan (SP 6) yang kini sudah menjadi Desa Persipan Pasir Putih.

“Pasca perdamaian Aceh, kami dipulangkan untuk menempati lokasi transmigrasi, kemudian saat itu sudah ditambah dengan transmigrasi lokal, karena ada sebagian korban tsunami yang ikut direlokasi untuk tinggal di pemukiman ini,” katanya.

Sementara itu, Arif Budiman (70), perangkat Desa persiapan, mengatakan dari 507 jiwa warga yang bertahan di Gampong Pasir Putih, umumnya mereka mengandalkan mata pencaharian sehari-hari hanya menjadi buruh di perkebun sawit dan karet yang berada jauh dari pemukiman mereka.

Sebab ketersediaan lahan di pemukiman mereka selama ini dinilai tidak didukung oleh prasarana yang memadai dan kemampuan warga untuk bercocok tanam.

“Memang lahan di sini luas tapi tidak bisa kami pakai karena tergenang air, karena tidak ada drainase, sehingga tidak bisa kami gunakan untuk bercocok tanam, jadi selama ini kami cari rezeki harus keluar jauh ke desa lain, menjadi buruh harian di kebun orang,” katanya.

Kehidupan warga Gampong Pasir Putih sangat memprihatinkan, berbagai keluhan disampaikan warga kepada Kompas.com, seolah selama ini mereka terlupakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat. Perusahaan tambah yang tak jauh dari tempat mereka, belum berkontribusi untuk kehidupan mereka.

“Kehidupan kami di sini sangat sulit, tidak ada perhatian dari pemerintah, beras raskin saja sekarang kami tidak dapat lagi. Apalagi dari perusahaan tambang, jangankan membantu, anak kami yang sudah lulus ikuttes kerja di situ tidak diterima,” keluh Budiman.

Tentara Manunggal Membangun Desa

Akses jalan penguhubung ke pusat kecamatan juga menjadi salah satu faktor warga Gampong Pasir Putih jauh tertinggal dibandingkan dengan desa lain di Kecamatan Meurebo. Untuk menuju ke pusat kecamatan warga harus berputar dengan jarak tempuh mencapai 12 kilometer.

Padahal jika jalan terobosan dibuka, akses dengan pusat kecamatan hanya berjarak dua kilometer. “Persoalan kami sangat kompleks memang, jalan juga termasuk salah satu yang membuat kami kesulitan untuk mengakses ke pusat kecamatan, bagi anak sekolah, kuliah dan pedagang kalau keluar harus mutar jauh 12 kilometer, tapi kalau jalan terobosan itu dibuka, dapat mempersingkat akses kami”, jelasnya.

Untuk mengejar berbagai ketertinggalan di daerah yang dulunya dikenal dengan wilayah basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM), kini TNI dari Kodim 0105 Aceh Barat meluncurkan program Tentara Manunggal Membangun Desa (TTMD).

Salah satu misinya adalah membuat terobosan jalan pintas sepeanjang 2,7 kilometer. TTMD juga harus membangun 6 unit jembatan kayu yang dapat mempersingkat akses warga ke pusat kecamatan Meureubo.

“Sekarang tugas TNI tidak hanya menjaga keamanan, namun kehidupan warga di desa juga wajib kita bantu. Melalui Babinsa kita mendapat laporan kehidupan warga Gampong Pasir Putih sangat memprihatinkan, sehingga kita arahkanlah progam TMMD tahun ini ke desa itu”, kata Letkol Inf Herry Riana Sukma, Komandan Kodim 0105, Aceh Barat.

Sebanyak 150 prajurut TNI dari berbagai satuan yang dikerahkan untuk melaksankan program TMMD, kata Herry, TNI tidak hanya fokus pada pembangunan terobosan badan jalan, namun berbagai potensi dan kebutuhan warga ikut dibangun.

Seperti membangun bak penampung air di lokasi mata air yang selama ini menjadi salah satu sumber air bersih yang dikonsumsi warga, membangun pos kampling, serta lapangan voli untuk sarana olahraga pemuda desa itu.

“Jadi selama program TMMD ini kita juga ada membuka posko kesehatan dan sunatan massal, jadi TMMD tidak hanya terkesan membangun jalan dan jembatan, tapi berbagai kegiatan kita kemas yang bermanfaat untuk warga,” katanya.

Pemukiman pasir putih ini dulunya termasuk dalam wilayah administrasi pemerintahan Gampong Balee, Kecamatan Meureubo. Namun sejak tahun 2013 hingga kini masih bersatus persiapan menjadi desa definitif.

Sebanyak 507 jiwa warga yang kembali menempati Gampong Pasir Putih pascaperdamaian Aceh 2005 lalu. Mereka dapat hidup rukun dan berbaur dengan berbagai suku transmigrasi.

Melalui adat dan budaya lokal, mereka mampu bertahan merajut kebersamaan dan persatuan di hutan pinggiran kota bumi Teuku Umar.

“Kami disini ibu-ibu ada kelompok kesenian dan kelompok pengajian, saat ada acara hajatan di Desa kami selalu tampil, dengan adat dan budaya kami yang tinggal di lokasi transmigrasi lokal ini bisa bersatu”, ujarnya Nurhamni (40), ketua kelompok pengajian.

Sumber KOMPAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...