Menikmati Kesunyian di Gua Sunyaragi

OBJEK wisata Kota Cirebon sangat lekat dengan budaya dan sejarah. Salah satu yang cukup diminati pengunjung ialah Gua Sunyaragi. Dibangun pada abad ke-16 oleh Panembahan Pakungwati I, Gua Sunyaragi dulunya berfungsi sebagai tempat beristirahatnya keluarga kerajaan. Bangunannya unik. Situs itu terdiri dari batu-batu cadas serta batu karang yang disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai gua. Ceruk-ceruk mengelilingi bukit, patung gajah, atau garuda serta air mancur melengkapinya.

“Sunyaragi berasal dari kata sunya yang artinya sunyi dan ragi yang artinya raga,” kata Thamrin, pengurus Gua Sunyaragi. Di zaman baheula, Gua Sunyaragi digunakan sebagai tempat menyepi, mengolah jiwa dan raga, atau bertafakur. Dulu, lanjut Thamrin, Gua Sunyaragi bernama Segaran Jati yang artinya danau atau situs air yang dikelilingi pohon jati.
Situs Gua Sunyaragi berada di tengah-tengah danau. Keluarga kerajaan yang ingin masuk ke situs harus menggunakan perahu untuk sampai ke sana. Tak mengherankan, Gua Sunyaragi dulu juga dikenal sebagai taman air.

Bahkan sejumlah sudut yang dulunya digunakan menyepi dan tafakur dilengkapi dengan tirai air dan pendingin alami. Aliran air itu mirip sungai kecil. “Sebelum dialirkan, membentuk tirai air dan aliran-aliran air kecil lainnya, air itu terlebih dahulu dinaikkan ke atas,” kata Nurdin M Noer, budayawan Cirebon. Konservasi pertama pada 1982 menemukan pipa terbuat dari timah. Namun, tim belum menemukan sumber tenaga yang digunakan untuk menaikkan air.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Kota Cirebon, Dana Kartiman, mengungkapkan jika susunan batu-batu karang yang ada di Sunyaragi sempat membuat peneliti kebingungan. Mereka sempat kesulitan mencari bahan pengganti batu karang. “Tim sampai harus mencari ke laut selatan,” kata Dana. Tidak diketahui pasti bagaimana sistem pengangkutan batu-batu karang tersebut. Diduga, wilayah kekuasaan kesultanan di Cirebon saat itu sudah sampai ke wilayah pantai selatan.

Seperti halnya bangunan kuno lainnya, Gua Sunyaragi juga tidak lepas dari mitos. Ada dua pintu yang di masa lalu dipercaya bisa tembus ke Mekkah dan Tiongkok. Pintu itu hanya digunakan para sultan Cirebon dan keturunan mereka. Salah satu keunikan lain ialah lorong-lorong kecil menuju ruang-ruang yang ada di gua itu. Orang yang melewatinya harus menunduk. Lorong itu pun hanya bisa dilalui satu orang. Kondisi itu sebenarnya menjadi tanda tanya karena fisik orang zaman dulu sebenarnya tinggi-tinggi.

“Itu ada artinya, yakni setiap orang tidak boleh menyombongkan diri yang biasanya ditunjukkan dengan menaikkan dagu dan kepala. Hanya yang Mahakuasa yang seharusnya berhak untuk sombong,” tandas Thamrin. Untuk menambah daya tarik, pada 1980 lalu, Menteri Kehakiman Ismail Saleh membangun panggung pertunjukan di dekat pintu masuk objek wisata itu. Di panggung itulah, secara rutin digelar pertunjukan budaya seminggu sekali.

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...