Mengenal Tradisi Nyadran Tenong Demangan di Temanggung

JAKARTA — Kali ini kita akan berwisata tradisi menuju Temanggung, sebuah kabupaten yang berjarak sekitar 77 km dari Kota Semarang dan bisa ditempuh selama kurang lebih 2 sampai 3 jam melalui jalan darat. Sayangnya, untuk transportasi umum seperti bus yang menuju Kabupaten Temanggung ini jarang sekali ditemui dalam keadaan layak atau enak dipandang. Untuk itu, kalau menginginkan sarana transportasi yang memadai dan nyaman bisa menggunakan travel, hanya saja ongkosnya lebih mahal daripada bus.

Kabupaten Temanggung ini menyimpan historis budaya yang sangat kaya, salah satunya adalah tradisi Tenongan. Tradisi ini berasal dari kata Tenong, yakni sebuah wadah serba guna yang terbuat dari anyam-anyaman bambu. Tradisi ini berkembang di Dusun Demangan, Desa Candimulyo, Kecamatan Kedu. Hal ini diungkapkan oleh Noor Aini Rachmawati selaku Public Relation and Advertising Ezytravel.co.id dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Sabtu (22/4).

Tradisi Tenongan kini menjadi ikon tradisional masyarakat sekitar yang diselenggarakan setiap tahunnya. Ritual acara ini dilakukan pagi hari, diawali masyarakat kumpul di sekitar komplek makam Kiai Demang yang merupakan peristirahatan terakhir Kiai Demang, leluhur dusun tersebut. Di sekeliling makam Kiai Demang, ada pula makam warga Dusun Demangan.

Dari rumah masing-masing warga Demangan berjalan beriringan mengusung tenong di kepalanya. Tenong tersebut diisi aneka lauk seperti ingkung, sambal goreng, mi, sayuran dan jajan pasar. Aneka makanan itu kemudian dibawa ke pemakaman.

Kegiatan tradisi nyadran ini memang tidak bisa dilepaskan dari Tenong. Piranti tradisional tersebut telah menjadi identitas kebudayaan Jawa sebagai tempat untuk membawa makanan. Uniknya dari kegiatan tradisi nyadran di Demangan, seluruh makanan yang disajikan hari itu tidak boleh dicicipi. Mereka meyakini bahwa apabila sampai melanggar hal itu, maka musibah akan muncul.

Ketika semuanya sudah berkumpul, warga lantas melantunkan ayat-ayat suci untuk mendoakan arwah para leluhur. Begitu selesai melantunkan ayat-ayat suci, warga baru boleh menyantap aneka masakan yang tadi dibawanya dengan Tenong. Seluruh warga berkumpul serta berbaur menjadi satu tanpa ada sekat atau jarak.

Kemudian mereka makan bersama dari sebuah tampah, satu tampah biasanya dikepung tiga hingga empat orang. Kebiasaan tradisi nyadran selain merupakan momen untuk mendoakan para leluhur, juga menjadi momen pertemuan bagi seluruh warga sekitar untuk berkumpul dan berinteraksi.

Untuk penyuka wisata sejarah tradisi, baiknya segera menjadwalkan agenda menyusuri Kabupaten Temanggung untuk menyaksikan tradisi nyadran tenong ini. Acara tersebut terbuka untuk umum dan siapa pun bisa turut menikmati aneka makanan yang tersaji sehingga tak perlu khawatir akan pulang dengan perut kosong.

Sumber Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...