Mendobrak Keterbatasan di Dunia Maya yang Tak Terbatas

PADA era teknologi informasi seperti saat ini pengguanaan internet menjadi sebuah kebutuhan.

Menurut survey Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016, jumlah pengguna internet mencapai 132,7 juta, atau 51,8% dari total jumlah penduduk Indonesia, 256,2 juta jiwa.

Jumlah ini meningkat pesat dari hasil survey yang sama pada 2014. Saat itu pengguna internet berjumlah 88,1 juta, atau 34,9% dari total penduduk Indonesia.

Dunia siber bisa digunakan untuk bersenang-senang, seperti fenomena ‘om telolet om’ atau ‘eta terangkanlah’ yang menjadi viral. Internet juga bisa digunakan untuk berbisnis, menambah informasi, atau bahkan mencari jodoh. Tapi, dunia maya pun bisa menjadi lahan pelaku kejahatan melakukan aksinya.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Ari Dono Sukmanto mengatakan kejahatan siber, bersama dengan perjudian, korupsi, dan narkoba, menjadi jenis kejahatan yang menyerap perhatian dan perbincangan di kalangan masyarakat.

“Tentu hal ini juga menjadi fokus dan perhatian dari Polri. Presiden Joko Widodo juga telah memerintahkan supaya cepat ditangani demi rasa keadilan masyarakat,” katanya di Jakarta, Rabu (9/8).

Pada Mei 2017, ada 552 kasus kejahatan siber yang diterima Polri. Adapun pada Juni 2017 ada 443 kasus.

Selama 2017, hingga Juni, polisi menerima 1.098 laporan kejahatan siber. Pada kurun waktu yang sama, polisi telah menyelesaikan 453 kasus, atau 41,26% dari total kasus yang masuk. Kasus-kasus itu masuk dan dikerjakan oleh 32 polda dan Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Laporan yang masuk bukan hanya dari Indonesia. Kasus penipuan yang melibatkan 148 WN Tiongkok yang terungkap di Jakarta, Surabaya, dan Bali, serta penangkapan dua WN Moldova yang menggandakan kartu ATM dan kartu kredit di Bali, merupakan laporan dari negara lain. “Hal ini membuktikan bahwa kejahatan siber tidak mengenal batas negara,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran.

Direktorat Tindak Pidana Siber merupakan sebuah barang baru yang dimiliki Polri. Saat ini, direktorat itu diisi oleh 61 personel, ditambah 46 personil bantuan yang tergabung dari satuan tugas media sosial yang dibentuk langsung oleh Kapolri.

Fadil mengakui jumlah personil dan perlengkapan yang ia kelola saat ini memang belum mencukupi. “Tapi dengan keterbatasan itu kami berupaya mendapatkan hasil yang terbaik. Minimal masyarakat tahu bahwa ada pengawasan dan tindakan hukum di dunia maya. Dengan itu masyarakat bijak dan berhati-hati dalam menggunakan internet,” katanya.

Dia pun memprediksi, kerawanan di dunia maya akan meningkat mendekati tahun politik pada 2019. “Hoax, ujaran kebencian, serta fitnah biasanya marak saat kondisi politik memanas. Hal ini menjadi konsentrasi kami saat ini, tapi kejahatan-kejahatan di dunia maya lainnya tetap kami tindak,” katanya.

Fadil pun berharap masyarakat membantunya dalam memerangi kejahatan di dunia maya. “Bantu kami dengan bijak menggunakan internet,” tutupnya. (OL-1)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...