Malaria masih Mengancam

MALARIA masih menjadi ancaman di Indonesia. Pasalnya, hingga kini, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, baru 247 kabupaten/kota yang dinyatakan bebas malaria. Jumlah penduduk berisiko tinggi terkena penyakit itu diperkirakan mencapai 80 juta orang. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), M Subuh, menjelaskan berdasarkan tingkatan endemismenya, wilayah Indonesia dibagi dalam tiga kategori, yaitu wilayah endemisme rendah, sedang, dan tinggi.

“Malaria untuk kategori endemisme tinggi berada di semua kabupaten dan kota di dua provinsi, yakni Papua dan Papua Barat,” ujarnya di Jakarta, Senin (17/4). Wilayah yang termasuk tingkat endemisme tinggi seperti Papua dan Papua Barat tentu harus waspada penuh. Namun, menurut Subuh, pemerintah daerah (pemda) dengan kategori endemisme rendah juga harus tetap waspada, tidak boleh lengah. Jika tidak dilakukan upaya pencegahan, bukan tak mungkin statusnya meningkat menjadi endemisme sedang hingga tinggi.

“Karena itu, penting bagi seluruh pemda untuk dapat mengalokasikan anggaran memadai guna mengatasi malaria,” tegasnya. Ia menyatakan pemerintah telah menargetkan agar Indonesia bebas malaria pada 2030. Upaya pencegahan dan pengendalian malaria pun telah masuk program prioritas nasional.

Pakai kelambu
Dalam kesempatan itu, Subuh mengingatkan para wisatawan yang akan melancong ke wilayah timur Indonesia agar mewaspadai penyakit yang ditularkan nyamuk Anopheles sp itu. Ia mengemukakan hasil surveilans menunjukkan tahun lalu ada 2.334 pelaku perjalanan menderita malaria saat kembali ke tempat asal. Ia pun mengimbau mereka yang berada di wilayah endemisme menengah dan tinggi agar mengenakan pakaian lengan panjang atau losion antinyamuk saat di luar rumah. Terlebih jika di sekitar tempat tinggal mereka masih terdapat rawa atau ladang yang disukai nyamuk.

“Kalau kita sedang tidur, sebaiknya juga harus mengunakan kelambu. Langkah ini 80% efektif mencegah gigitan nyamuk Anopheles sp yang membawa parasit malaria. Nyamuk menggigit pada umumnya mulai dari jam enam sore hingga jam enam pagi. Memang butuh usaha ekstra jika kita mau menangkal malaria,” tegasnya. Ia mencontohkan, keberhasilan di daerah Purworejo, Jawa tengah, mengurangi 200 angka kejadian malaria (annual parasite incidence/API) dalam waktu enam tahun menjadi di bawah 3, salah satunya karena bupati dan seluruh komponen di sana menyosialisasikan pemakaian kelambu.

Ia menambahakan, beberapa gejala yang patut dicurigai sebagai tanda malaria antara lain mual, demam, lesu, berkeringat, menggigil, muntah, diare, dan badan kuning.
“Karena gejalanya mirip dengan penyakit lain, penderita harus menjalani tes laboratorium terlebih dulu untuk memastikannya.” Saat memberi obat pun harus dipastikan penderita benar-benar mengidap malaria. Hal itu karena pengobatan yang diberikan tergolong radikal dengan membunuh semua parasit yang ada dalam tubuh manusia. (H-3)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...