Lahan Sub-Optimal Masa Depan Pertanian Indonesia

Oleh Dr I Ketut Kariyasa

Sektor pertanian mempunyai peran yang strategis dan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan petani. Namun demikian, upaya meningkatkan peran sektor pertanian yang bermuara pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani ini dihadapkan pada berbagai permasalahan.

Sebut saja persoalan terbatasnya ketersediaan benih baik dari sisi jumlah, mutu dan waktu, ancaman perubahan iklim, terjadinya alih fungsi lahan secara terus menerus dan terbatasnya lahan produktif. Lalu, kurangnya minat generasi muda untuk terjun pada sektor pertanian, kehilangan hasil yang masih tinggi, dan fluktuasi harga yang cenderung kurang memberikan insentif bagi petani untuk berproduksi. Maupun, kurang aksesnya petani terhadap sumber permodalan dan sumber inovasi teknologi.

Dr Muhammad Syakir, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian-Kementan, baru-baru ini (20/4) mengatakan pada acara Dies Natalis Ke-54 dan Wisuda Sarjana S1 dan S2 Universitas Pattimura di Ambon bahwa masalah tersebut harus dipandang sebagai tantangan dan sekaligus peluang untuk meningkatkan peran sektor pertanian. Untuk itu, Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian telah berupaya secara terus menerus mencipataan Varietas Unggul Baru (VUB) termasuk off season dan tahan kekeringan serta banjir.

Balitbangtan juga mengakselerasi perbanyakan benih sebar serta penyempurnaan logistik benih, penciptaan inovasi teknologi khsususnya untuk lahan sub-optimal, dan menciptakan teknologi mekanisasi pertanian spesifik lokasi. Termasuk, menciptakan teknologi pascapanen dan menyusun rekomendasi kebijakan dalam mendorong petani lebih akses terhadap pupuk, benih, permodalan dan pasar.

Muhammad Syakir lebih lanjut mengatakan mengingat terbatasnya lahan sawah produktif, maka prioritas penelitian dan pengembangan pertanian ke depan adalah pada lahan sub-optimal, yaitu pada lahan kering, rawa lebak/pasang surut/gambut. Sampai saat ini, luas lahan kering di Indonesia mencapai 79,69 persen dari luas lahan yang ada, sementara, lahan sawahnya hanya sekitar 20,31 persen.

Dominasi lahan sub-optimal, khususnya lahan kering pada Wilayah Timur Indonesia malah lebih besar. Sebagai contoh di Maluku mencapai 99,33 persen, sementara lahan sawah hanya 0,67 persen. Contoh lainnya di NTT, luas lahan kering menjadi 91,53 persen dan lahan sawahnya hanya sekitar 8,47 persen.

Demikian juga untuk daerah-daerah lainnya di Wilayah Timur Indonesia. Dengan terbatasnya lahan sawah produktif tersebut, melalui pengelolaan dan penerapan inovasi teknologi secara tepat diyakini masa depan pertanian Indonesia ada pada lahan sub-optimal termasuk di dalamnya lahan kering.

Muhammad Syakir juga mengatakan beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan sub-optimal/lahan kering seperti infrastruktur masih kurang. Petani masih menerapkan teknologi tradisional dan subsisten. Jumlah dan kualitas SDM petani masih rendah, serta petani kurang akses terhadap sumber-sumber inovasi pertanian, permodalan, dan pasar.

Ada pula teknologi yang dikembangkan belum sepenuhnya berorientasi kepada kebutuhan pengguna dan keunggulan sumber daya pertanian setempat. Kondisi ini dapat kita duga menyebabkan produktivitas lahan kering masih rendah, seperti padi baru 61,54 persen dari lahan sawah.

Patut disadari juga bahwa teknologi untuk pengelolaan lahan sub-optimal relatif belum tersedia, walaupun tersedia masih jauh dibandingkan dengan lahan irigasi. Kebijakan pengembangan sub-optimal termasuk di dalamnya lahan kering harus menjadi bagian integral dari kebijakan pembangunan nasional.

Oleh karena itu, Badan Litbang Pertanian yang bertugas untuk menghasilkan inovasi pertanian, maka penelitian dan pengembangan inovasi teknologi yang dilakukan pada lahan sub-optimal/lahan kering harus mengupayakan hal-hal ini.

1. Mampu mengedepankan pemanfaatan secara optimal keunggulan sumberdaya lokal.

2. Selain meningkatkan produktivitas dan produksi, yang lebih penting adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat.

3. Mengedepankan partisipasi masyarakat dan pemda setempat. Selain itu, perlu ada perubahan cara berpikir bahwa pengembangan lahan kering sebagai sumber produksi pangan harus dipandang dari aspek tambahkan produktivitas bukan tingkat produktivitas.

Ini dapat dimaknai bahwa pada lahan sawah dengan tingkat produktivitas padi yang relatif sudah tinggi dan jenuh sangat sulit untuk meningkatkan produktivitas sekitar 2 ton per hektare, sementara pada lahan kering melalui penerapkan inovasi teknologi secara baik, tambahan itu dengan mudah dicapai, dan bahkan bisa lebih besar.

Badan Litbang Pertanian tentunya tidak bisa sendirian dalam menghasilkan inovasi pertanian sesuai kebutuhan dalam pengembangan lahan sub-optimal khususnya lahan kering yang masih banyak terdapat di Wilayah Timur Indonesia. Badan Litbang Pertanian harus berkerja sama dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian lainnya, Pemda, Swasta, dan stakeholder lainnya.

Kehadiran Perguruan Tinggi (seperti Universitas Pattimura) menjadi sangat penting, tidak hanya dalam mencetak SDM Pertanian (peneliti, perekayasa, penyuluh, dan petani) yang andal, tapi juga melakukan penelitian untuk menghasilkan inovasi teknologi. Perguruan Tinggi diharapkan mampu mencetak mahasiswa yang inovatif, tangguh dan mandiri sebagai penggerak pembangunan pertanian ke depan.

Sumber Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...