Laba dari Domba, Rezeki dari Pupuk Fermentasi

POHON pisang dan tanaman lain tumbuh di halaman samping rumah yang belum selesai dibangun. Di halaman samping lainnya, ada kandang cukup besar berisi belasan domba.

Meski jarak antara halaman yang satu dan halaman lainnya hanya sekitar 15 meter, tidak tercium bau kotoran domba milik kelompok peternak Lancar Rezeki di Desa Temandang, Merakurak, Tuban, Jawa Timur, itu.

Rahasianya kotoran domba itu telah diolah menjadi pupuk fermentasi. “Kalau saat musim tanam, kami kewalahan memenuhi permintaan pasar. Bahkan untuk kotoran, saya harus mencarinya ke peternak lain,” kata M Hadi, Ketua Kelompok Lancar Rezeki, kemarin.

Hadi menceritakan awalnya dirinya bersama Israwan dan Suwoto tergabung dalam kelompok Lancar Rezeki sebagai peternak penggemuk domba. Sebelumnya, ketiganya berprofesi sebagai buruh tani. Beternak domba hanya sampingan.

Nasib mereka berubah saat PT Semen Gresik (SG) Tuban bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat program Desa Perkasa. Itu program peningkatan kesejahteraan warga di sekitar lokasi PT SG Tuban.

“Sekitar tiga tahun lalu, kami mendapat pelatihan beternak kambing domba dengan metode yang tepat hingga hasil penggemukan menguntungkan,” papar Hadi.

Kelompoknya juga diberi bantuan modal Rp30 juta untuk membuat kandang, serta pembelian bibit domba dan biaya pakan. Dengan harga bibit Rp800 ribu/ekor, dalam masa tiga bulan domba bisa laku Rp1,2 juta hingga Rp1,6 juta tiap ekornya.

Setelah itu muncul ide memanfaatkan kotoran yang melimpah dengan membuat pupuk fermentasi pada 2015. PT SG Tuban tidak hanya memberikan pelatihan, tapi juga mengenalkan produk mereka dengan mengikutkan mereka dalam berbagai pameran.

Hasilnya saat ini dalam seminggu kelompok Lancar Rezeki bisa menjual pupuk kandang fermentasi 300 kantong kemasan 20 kg yang dibanderol Rp20 ribu setiap saknya. Ada juga kemasan 10 kg seharga Rp13 ribu dan 5 kg yang dijual Rp7.000 per saknya.

Untuk pupuk cair, tiap minggunya, Hadi dan kawan-kawan bisa memproduksi hingga 80 liter. Harga jualnya Rp5.000 untuk kemasan botol plastik berukuran 1,5 liter.

“Selain dijual ke petani sekitar, pupuk kandang ini juga saya kirim langsung secara rutin ke penjual bibit tanaman langganan. Ini semua berkat bantuan PT SG Tuban yang peduli kepada masyarakat sehingga ekonomi kami jadi lebih baik dan terus meningkat,” ucap Hadi.

“Tanaman jagung saya, kalau diberi pupuk ini, tumbuh cepat dan daunnya hijau legam. Tidak perlu banyak, sedikit saja. Ini juga menggantikan pupuk kimia yang harganya lebih mahal,” papar Suwandi, petani yang kebetulan tengah membeli pupuk. (Abdus Syukur/X-5)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...