Kok, masih Buang Sampah ke Kali

BAU busuk seketika menusuk hidung saat melintasi Kali Krukut Bawah Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (23/9). Kali Krukut tidaklah besar, lebarnya kurang dari 10 meter dan dalamnya hanya semata kaki.

Kali Krukut Bawah Tanah Abang mengalir sepanjang empat kilometer di Kelurahan Kebon Melati. Sepanjang itu pula, sisi kanan-kiri kali telah diokupansi oleh warga.

Kali itu menampung sampah warga sekitar bahkan menjadi tempat pembuangan saluran mandi cuci kakus (MCK). Beragam sampah menghiasi kali, dari bungkus makanan, botol kaca, hingga kotoran manusia.

Sri, 42, warga yang tinggal di pinggir kali, mengaku aliran pembuangan kamar mandi rumahnya bermuara ke sungai.

Bau busuk dari kali diakui Sri memang mengganggu meski telah terbiasa. Makan, minum, dan tidur pun tidak terpengaruh oleh bau itu. Tetangga sebelah rumah Sri bahkan membuka warung kopi tepat di pinggir kali yang bau. “Setiap musim kemarau memang baunya menyengat,” ujar Sri.

Konon dulunya kali cukup dalam hingga tiga meter. Namun, siang itu kedalaman air hanya sampai mata kaki petugas berseragam oranye. Setiap hari ada 24 petugas yang ditempatkan untuk membersihkan empat ruas Kali Krukut Bawah Tanah Abang.

Tidak satu pun warga sekitar mengaku pernah membuang sampah ke kali. Mereka menuding sampah-sampah itu bawaan dari aliran sungai. Di depan rumah mereka, terdapat karung yang diberikan pihak kelurahan untuk menampung sampah buangan warga.

Lain cerita dengan data yang diungkap Unit Pengelola Kebersihan (UPK) Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Setiap hari terdapat 10 kubik sampah diangkut petugas dari Kali Krukut Bawah Tanah Abang. Sebanyak 90% merupakan sampah rumah tangga dari lingkungan sekitar.

“Kalau dari temuan, 90% warga buang sampah di sini. Memang ada yang terbawa aliran sungai, tapi 90% dari warga. Kelihatan dari tipikal sampahnya,” papar Kepala Subbagian Tata Usaha UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Aditya Pamungkas.

Kali Krukut Bawah Tanah Abang termasuk kategori zona merah. Artinya, jumlah sampah sudah dalam tahap parah. Bahkan sekat HDPE (jaring apung) sebagai penahan sampah tidak bisa digunakan sebab kedalam­annya tidak mencukupi. “HDPE berfungsi jika kedalaman air setidaknya mencapai satu meter,” imbuh Aditya.

Upaya petugas Badan Air saat ini hanya bisa mengangkut sampah yang mengambang. Penumpukan sampah yang telah mengakibatkan pendangkalan dasar sungai masih dibiarkan. Sebab, jika dikeruk, dikhawatirkan berdampak pada rumah-rumah warga yang berada di pinggiran kali.

“Kita enggak yakin fondasi rumah-rumah di pinggiran kali ini kuat. Kalau dikeruk, bisa-bisa longsor,” ucapnya.

Ketua RW 14 Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang, Asbullah, juga tidak bisa berbuat banyak. Peneguran terhadap oknum yang membuang sampah ke sungai tidak berpengaruh. Bahkan, kerap menimbulkan cekcok. “Ditegur jadinya berantem, sulit kalau di sini,” keluhnya. (Nicky Aulia Widadio/J-2)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...