Ketentuan Bagi Alumni Penerima Beasiswa Pemerintah yang Kabur Diperketat

PEMERINTAH telah memperketat aturan bagi para penerima beasiswa dari pemerintah yang melanggar kontrak dengan tidak kembali ke tanah air saat tugas belajarnya berakhir. Pemerintah bahkan kini menggunakan jasa debt collector untuk memastikan para penerima beasiswa yang lari ke luar negeri ini mengembalikan kerugian negara yang ditimbulkan.

“Bahkan mereka yang tidak mengembalikan uang ini bisa diperlakukan sebagai kriminal,” kata Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto kepada wartawan Media Indonesia, Emir Chairullah, saat mengadakan kunjungan kerja ke University of Queensland, Brisbane, Australia, Jumat (28/4).

Ia mengakui, praktik penerima beasiswa pemerintah yang tidak kembali setelah menyelesaikan kuliahnya sudah lama terjadi. Salah satu faktor utamanya yaitu ingin bekerja di negara tempat penerima beasiswa tersebut belajar dengan gaji yang lebih besar.

“Modusnya biasanya kembali ke Indonesia sebentar. Setelah itu berhenti dari pekerjaannya untuk kembali lagi ke negara tempat mereka sebelumnya bersekolah,” jelasnya.

Bambang mencontohkan sejumlah peneliti di LIPI yang berhenti bekerja tak lama setelah menyelesaikan kuliah dan kembali ke tanah air. Untuk kasus ini, LIPI meminta mereka mengganti rugi seluruh biaya kuliah dan hidup selama tinggal di luar negeri beserta bunganya. “Ada beberapa kenalan saya yang per orangnya harus membayar Rp3 miliar hingga Rp4 miliar karena kasus ini,” ujarnya.

Ia menyebutkan, saat ini banyak instansi di Indonesia yang masih kekurangan tenaga SDM berkualitas. Karena itu ia menyayangkan apabila para penerima beasiswa yang sudah dibiayai negara kemudian lari tidak kembali ke Indonesia setelah mendapatkan fasilitas.

Menurut Bambang, salah satu tindakan preventif yang bisa dilakukan pemerintah saat memberikan beasiswa seperti DIKTI, RISPRO, Bappenas, dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yaitu memastikan setiap calon penerima sudah bekerja. Sehingga ketika penerima beasiswa menyesaikan studinya dan kembali ke tanah air, ia bisa langsung bekerja di instansi lamanya. “Walaupun pada kenyataannya tetap ada juga yang sudah bekerja tapi tetap berhenti dan tinggal di luar negeri setelah kuliahnya rampung,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Bambang juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang adanya penerima beasiswa LPDP yang belum mendapatkan pekerjaan di tanah air setelah lulus kuliah di luar negeri. Padahal, ungkapnya, pemerintah sudah mengalokasikan dana begitu besar untuk menyekolahkan mereka di kampus terbaik di luar negeri.

“Karena itu, LIPI sedang menjajaki program penerimaan peneliti baru yang tenaganya berasal dari lulusan penerima beasiswa LPDP,” ujarnya.

Apalagi, kata Bambang, salah satu tujuan LIPI mengadakan kunjungan ini yaitu meningkatkan kemampuan peneliti agar bisa berkontribusi kepada masyarakat. “Jadi bagaimana ilmu pengetahuan bisa secara praktis digunakan dalam pembangunan. Dan sudah pasti kita membutuhkan tenaga yang berkualitas,” ujarnya.

Menanggapi rencana tersebut, Direktur Utama LPDP Eko Prasetyo mengungkapkan, pihaknya menyambut baik rencana perekrutan alumni penerima beasiswa LPDP untuk bekerja di LIPI. Artinya LIPI sudah proaktif dalam melihat SDM yang dibutuhkan untuk menjadi periset handal. “Itu ide bagus. Artinya proaktif untuk melihat SDM terbaik dan dalam rangka kaderisasi periset,” katanya ketika dihubungi melalui pesan singkat. (OL-1)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...