Ketahanan Budaya Sebagai Filter Infiltrasi

KETAHANAN budaya dan investasi terhadap budaya menjadi semangat dalam pembahasan RUU Pemajuan Kebudayaan. Hal itu cukup ampuh untuk menjadi filter bagi infiltrasi budaya asing yang tidak cocok bagi masyarakat.

“Selama ini yang kita takutkan mengenai kebudayaan adalah infiltrasi budaya. Itu sebabnya dalam RUU disebutkan ketahanan budaya. Kita membutuhkan ketahanan budaya yang kuat, agar bangsa ini bisa membentengi diri dari serbuan-serbuan kebudayaan tidak pantas,” jelas Wakil Ketua Komisi X DPR RI sekaligus Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU Pemajuan Kebudayaan Ferdiansyah, di Jakarta, Minggu (30/4).

Sebelumnya RUU Pemajuan Budaya ini sudah melalui pembahasan yang memakan waktu hampir dua tahun. Akhirnya dalam rapat Paripurna Pembicaraan Tingkat II/Pengambilan Keputusan terhadap RUU tentang Pemajuan Kebudayaan, Kamis (27/4), disahkan.

RUU ini merupakan inisiatif DPR melalui surat Ketua DPR RI nomor LG/19390/DPR RI/XII/2015, tanggal 18 Desember 2015, perihal Penyampaian RUU tentang Kebudayaan kepada Presiden. Pemerintah merespons dengan membentuk Tim Antar Kementerian yang dipimpin Kemendikbud. Kementerian lain yang masuk tim adalah Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Agama, dan Kementerian Hukum dan HAM.

Pembahasan RUU ini, ujar Ferdiansyah, memusatkan perhatian pada upaya ‘memajukan kebudayaan’ sebagaimana diamanatkan UUD 1945, Pasal 32 Ayat 1. UU Pemajuan Kebudayaan terdiri atas IX Bab dan 61 pasal.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy usai pengesahan RUU Pemajuan Kebudayaan mengatakan bahwa kebudayaan tidak hanya pada tarian atau tradisi saja, tetapi juga nilai karakter luhur yang diwariskan turun-temurun hingga membentuk karakter bangsa kita.

“Kebudayaan telah menjadi akar dari pendidikan kita, oleh karena itu, RUU Pemajuan Kebudayaan perlu menekankan pada pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan agar budaya Indonesia dapat tumbuh tangguh,” tukas Mendikbud.

Selanjutnya untuk pengembangan kebudayaan akan dilakukan penyebarluasan, pengkajian, dan peningkatan keberagaman obyek kebudayaan.

Sedangkan Ferdiansuah menambahkan budaya jangan diartikan sebagai biaya, tetapi investasi. Dengan adanya aktivitas melestarikan, pemeliharaan dan berbagai aktivitas lainnya, hal itu merupakan upaya agar budaya menjadi daya tarik bangsa Indonesia.

“Termasuk juga budaya jangan diartikan sangat sempit. Etos kerja pun juga menjadi bagian dari budaya. Jadi, hal apapun dalam pembangunan nasional itu beraspek dari budaya. Akhirnya kita menyimpulkan, budaya menjadi haluan pembangunan nasional,” tegas Ferdiansyah. (OL-4)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...