Kesuburan Tanah dari Hutan yang Dibakar Sementara

ANGGAPAN untuk mendapatkan tanah yang subur dengan cara membakar hutan terlebih dahulu tidak sepenuhnya benar. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Raffles Brotestes Panjaitan menuturkan bahwa debu dari sisa kebakaran hutan hanya bersifat sementara untuk menyuburkan tanah.

“Begitu debu atau abu itu habis tentu akan hilang dampak kesuburannya,” ujar Rafles di Jakarta, Rabu (31/5).

Rafles menjelaskan, masyarakat khususnya petani tidak perlu membakar hutan demi mendapatkan tanah garapan baru yang lebih subur. Pengelolaan tanah dengan benar dan penambahan pupuk lebih efektif untuk menyuburukan tanah.

“Kalau membakar itu memang cepat dan murah, namun sangat merusak,” paparnya.

Jika dihitung dari sisi ekonomis, kesuburan tanah yang didapat dengan cara membakar lahan tidak sebanding dengan tingkat kerugian dampak dari kebakaran hutan. Kebakaran hutan dapat membahayakan kesehatan pernapasan masyarakat serta menganggu jadwal penerbangan.

“Tentu hutan yang dibakar lebih menimbulkan kerugian daripada keuntungan,” tambahnya.

Rafles melanjutkan, saat ini Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) terus melakukan sosialisasi kepada msayarakat tentang bahaya kerugian dari kebakaran hutan. Sosialisasi pada tingkat awal kepada masyarakat dipercaya lebih efektif dibandingkan harus bersusah payah melakukan pemadaman akibat hutan yang sudah terlanjur di bakar.

“Sosialisasi di tingkat awal sama seperti sedia payung sebelum hujan, jadi sebisa mungkin masyarakat diarahakan untuk tidak membakar hutan atau lahan mereka,” paparnya. (Uta)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...