Jonan Turunkan Tim untuk Gaet Investasi Energi dari India

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menurunkan tim kecil ke India pada pekan depan. Tim kecil tersebut dikerahkan guna menarik investasi di sektor energi dari India.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan tim kecil tersebut akan terdiri dari Kementerian ESDM dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT PLN, PT Pertamina, dan PT Perusahaan Gas Negara.

“Tim kecil dari kementerian dan operator sini. Saya akan minta mereka ikut untuk bicara dengan operator India supaya kerja sama ini benar terjadi. Mudah-mudahan menguntungkan,” ucap Jonan dalam Indonesia-India Energy Forum di Jakarta, Kamis (20/4).

Jonan menilai banyak potensi kerja sama yang akan digarap antara Indonesia dan India. Salah satunya, di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas).

Pemerintah akan menjemput bola dengan datang ke India dan menawarkan blok-blok migas. “Saya akan minta Dirjen Migas ikut ke sana untuk ngobrol, ini loh (blok) yang mau ditawarkan,” tukasnya.

Selain itu, Menteri Negara untuk Energi, Batu Bara, dan Energi Baru dan Terbarukan India Piyush Goyal menjabarkan pihaknya tertaik bekerja sama di kilang Indonesia, membangun pembangkit listrik tenaga gas (PLTG), dan mengembangkan tambang batu bara kualitas kokas (cooking coal).

Sayangnya, baik India dan Indonesia belum menghitung nilai potensi kerja sama kedua negara.

“Banyak kesempatan di Indonesia untuk kami berinvestasi. Di saat yang sama, kita berharap bisa belajar dari kesuksesan Indonesia dalam mengganti BBM (bahan bakar minyak) ke BBG (bahan bakar gas) untuk bis dan truk,” papar Piyush.

Piyush mengatakan India memang tengah berfokus pada peningkatan porsi energi baru dan terbarukan (EBT). Karena itu, dia meminta kepada pemerintah Indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait penggunaan BBG untuk kendaraan.

Kerja sama di bidang energi tersebut juga diharapkan bisa makin memperbanyak pembangkit listrik tenaga EBT di Indonesia. Saat ini, di India kapasitas pembangkit berbasis EBT mencapai 17,5% atau 57 gigawatt (GW). Sementara Indonesia, baru mencapai 15% atau 8 gigawatt dari total kapasitas pembangkit 56 GW.

“Kita berharap Indonesia bisa ikut bergabung dalam International Solar Alliance (ISA). Organisasi itu merupakan wadah 21 negara untuk saling sharing teknologi, pengalaman guna melawan perubahan iklim, mengurangi polusi, dan menggunakan energi bersih,” papar Piyush. (OL-5)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...