Indonesia Darurat Badak

INDONESIA dalam status darurat badak setelah habitat satwa bercula dengan status dilindungi itu berkurang drastis dari delapan menjadi tiga kantong yang semuanya berlokasi di kawasan konservasi dan lindung.

“Kita berlomba dengan waktu untuk menyelamatkan badak Indonesia agar nasibnya tidak sama dengan harimau jawa,” kata Direktur Konservasi WWF-Indonesia Arnold Sitompul di Jakarta, kemarin (Jumat, 22/9).

Ia mengatakan darurat badak sumatra atau Dicerorhinus sumatrensis terjadi karena habitatnya semakin habis. Dari delapan kantong habitat badak, saat ini hanya tersisa di tiga kawasan konservasi, yakni Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan Kawasan Ekosistem Leuser.

Ironisnya, status kawasan tidak menjamin kehidupan badak bebas dari ancaman, sedangkan badak jawa atau Rhinoceros sondaicus saat ini juga tengah menghadapi situasi darurat karena tekanan habitat yang cukup masif, yaitu berupa bencana alam letusan Gunung Anak Krakatau, penyakit yang ditularkan ternak dan invasif tanaman langkap ialah tekanan untuk habitatnya di Ujung Kulon.

Pemerintah Indonesia, lanjutnya, perlu bereaksi cepat agar badak tidak bernasib sama seperti harimau jawa, yakni punah, mengingat status kawasan sudah over capacity.

“Perlindungan habitat saja dan membiarkan mereka berkembang biak secara alami tidak cukup untuk menyelamatkan kelangsungan hidup badak, perlu segera memindahkan badak ke tempat yang aman dan melakukan pembiakan semialami yang lebih aktif dan manajemen kawasan yang lebih baik,” ujar dia.

Selain berada zona rawan tsunami karena letusan Gunung Anak Krakatau dan pergeseran lempeng benua, hasil sensus yang dilakukan terhadap ternak masyarakat yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menunjukkan 90% kerbau masyarakat positif mengidap bakteri tripanosoma.

Aktivitas ternak yang tidak dikandangkan dan dilepasliarkan hingga masuk ke kawasan TNUK dikhawatirkan bisa menyebarkan bakteri tersebut kepada badak jawa dan bukan tidak mungkin bisa menyebabkan kematian.

Bertepatan dengan Hari Badak Internasional yang jatuh kemarin, ia mengingatkan pemerintah segera memutuskan pembangunan populasi kedua untuk badak jawa. Adapun untuk badak sumatra, perluas habitat dan intervensi reproduksi mengingat jumlah di alam liar hanya 100 ekor.

Kembangbiak badak
Dari survei diketahui bahwa badak sumatra hanya tersisa kurang dari 100 ekor dan hidup secara terpisah-pisah. Baru-baru ini Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) Way Kambas berhasil mengembangbiakkan badak sumatra. Dengan demikian, SRS Way Kambas menjadi satu-satunya tempat di dunia yang berhasil mengembangbiakkan badak di suaka.

Persoalan semakin punahnya badak sumatra salah satunya ialah karena faktor biologis badak jenis ini yang sulit berkembang biak.

“Kita sudah melakukan proses perkawinan dua individu badak dan sudah berhasil melahirkan anak badak yang kita beri nama Delilah pada 12 Mei 2016.

Namun, sejauh ini masih program alami yang berhasil. Upaya lain seperti kawin melalui penyuntikan, keberhasilan masih nol. Namun, kami masih terus berupaya,” kata drh Ni Made Ferawati, dokter hewan SRS Way Kambas, kemarin.(*/H-1)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...