Imunisasi di 4 Daerah masih Rendah

TREN imunisasi lengkap secara nasional mengalami peningkatan. Namun, masih ada beberapa wilayah memiliki angka cakupan imunisasi di bawah daerah lain.

Berdasarkan tren cakupan imunisasi vaksin DTP-HB-Hib (vaksin jerap difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B rekombinan, haemophilus influenzae tipe b) sepanjang 2013-2016, ada empat daerah memiliki angka cakupan di bawah 80%, yang merupakan angka target nasional. Keempat daerah itu Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan Kalimantan Utara.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh mengatakan kondisi itu sangat timpang bila dibandingkan dengan Pulau Jawa, cakupannya mencapai 95%. Belum meratanya cakupan imunisasi itu disebabkan berbagai faktor, antara lain rendahnya kesadaran masyarakat terhadap imunisasi dan luasnya wilayah.

“Contohnya, masyarakat enggan membawa anak imunisasi karena alasan anak akan sakit atau panas setelah diimunisasi. Atau adanya isu mengenai halal dan haramnya vaksin yang digunakan,” katanya dalam acara temu media memperingati Pekan Imunisasi Dunia 2017 yang berlangsung pada 24 hingga 30 April 2017.

Karena itu, ujar Subuh, pendekatan keluarga melalui puskesmas ialah salah satu upaya untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan cakupan imunisasi agar merata, terutama di daerah dengan cakupan imunisasi rendah.

Menurutnya, pemerintah akan menambah empat vaksin baru secara bertahap hingga 2019. Vaksin itu ialah measles dan rubella (MR) pada 2018, vaksin HPV yang bertujuan mencegah kanker serviks, vaksin Japanese encephalitis, dan vaksin pneumo.

Vaksin HPV awalnya didemonstrasikan di DKI Jakarta dan akan dilanjutkan ke beberapa kota besar, seperti Surabaya, Manado, Makassar, dan seluruh daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hingga 2019. Vaksin Japanese encephalitis (JE) disebabkan nyamuk Culex tritaeniorhynchus. Sementara itu, vaksin pneumo akan dimeratakan pada di NTB, Bangka Belitung, dan beberapa kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

Dana untuk program itu, ujar Subuh, tidak sepenuhnya berasal dari APBN, tetapi juga dari lembaga donor, di antaranya Global Alliance for Vaccines and Immunizations (GAVI).

Ia juga mengatakan imunisasi sangat berperan untuk menurunkan kesakitan, cacat, dan kematian yang diakibatkan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Misalnya, akibat penyakit polio, campak, hepatitis B, tetanus, pertusis (batuk rejan), difteri rubella, pnemonia, dan meningitis.

Kekebalan kelompok
Sekretaris Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menambahkan imunisasi dapat membentuk kekebalan kelompok. Apabila sebagian besar masyarakat mendapat imunisasi, mereka akan terlindungi dari penyakit tertentu dan berdampak tidak langsung, yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit bersangkutan.

Namun, ujarnya, kekebalan kelompok dapat tercapai hanya dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata. “Vaksinasi harus tinggi cakupannya, di atas 80%. Kalau kurang dari 60%, muncul lagi wabahnya,” tutur Pimprim.

Pada daerah dengan cakupan imunisasi rendah, bila muncul kasus PD3I, penyebarannya berlangsung cepat.(H-2)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...