Ilmuwan Harus Mampu Menulis di Media Massa

Ilmuwan Harus Mampu Menulis di Media Massa

PARA ilmuwan sudah seharusnya memiliki kemampuan untuk menuliskan opini di media massa agar masyarakat menjadi mengetahui segala sesuatu yang menyangkut ilmu pengetahuan. Itu sebabnya dibutuhkan sebuah pelatihan menulis.

‘’Jadi bagi para ilmuwan harus bisa menulis opini di media massa agar masyarakat luas menjadi mengetahui bagaimana sebenarnya sebuah ilmu itu berkembang. Terlebih bagi ilmuwan yang ada di LIPI,’’ ujar Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nur Tri Aries Suestiningtyas saat membuka Inhouse Training Pelatihan Menulis Opini Hasil Kerja Sama LIPI dan Media Indonesia di Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/4).

Nur menegaskan bahwa ilmu itu harus berkembang dan salah satu caranya adalah dengan menyebarkan di media massa. Tanpa hal tersebut tidak akan banyak diketahui masyarakat. Inilah esensi sesungguhnya dari pelatihan menulis opini.

Sedangkan Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong tampil menjadi pembicara yang mengusung tema Teknik Menulis Opini. Dalam penjelasannya, Usman menyebutkan bahwa dalam komponen opini itu terdiri dari perbedaharaan kata (makna, istilah, metafora), tata bahasa (struktur kalimat), kohesi (keterpaduan kalimat dan pemaknaan), dan struktur teks (logika argumen untuk pemaknaan)

‘’Namun dari semua itu yang terpenting adalah kemauan untuk menulis dan menuangkan pemikiran kita. Tanpa adanya kemauan untuk menulis, apa yang ada dalam benak dan diri kita tak akan berguna,’’ tutur Usman.

Di sisi lain dalam menulis opini harus dikuatkan dengan alur berpikir yang logis. Tulisan juga harus argumentatif, mencerahkan, memotifasi dan punya nilai tambah. ‘’Yang tak kalah penting adalah tulisan jangan mengadu domba atau bermaterikan SARA,’’ tegas Usman lagi.

Sementara anggota Dewan Redaksi Djajat Sudradjat yang tampil sebagai pembicara, memperkuat materi yang disampaikan Usman. Djajat kemudian menambahkan bahwa pemilihan diksi yang tepat bisa membawa pembaca untuk larut dalam tulisan tersebut.

‘’Tulisan yang berhasil adalah yang membawa pembaca tidak berpaling dari apa yang dia baca dari awal sampai akhir. Di situlah peran diksi dalam penulisan. Intinya adalah jangan kita menulis mengobral kalimat klise,’’ imbuh Djajat.

Pelatihan menulis opini di media massa yang berlangsung hingga Kamis (27/4) tersebut diikuti 25 peserta yang merupakan perwakilan dari satuan-satuan kerja di LIPI seperti Puslit Limnologi, Puslit Oseanografi, Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam, Kebun Raya Cibodas, Inspektorat, Loka Penelitian Teknologi Bersih, Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna, Balai Informasi Teknologi, Balai Penelitian Teknologi Mineral, Puslit Biomaterial, PDII, Loka Uji Teknik Penambangan, LIPI Press, Puslit Kependudukan, Puslit Metrologi, Puslit Kimia, Bagian Hukum, Bagian Kerjsama, BIM, Pusat Inofasi, dan Humas.

Proses pelatihan berlangsung semarak karena banyak peserta yang kerap bertanya kepada pembicara terkait hal-hal yang dianggap baru buat mereka. Peserta pun diwajibkan membuat naskah opini untuk dilakukan efaluasi penulisannya.

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...