Hebatnya Menjadi Seorang Penulis, Bisa jadi “Tuhan” dan Hidup Abadi

Menulis adalah mengabadikan sesuatu. Sedangkan tulisan adalah artefak yang kita buat dari apa yang terjadi atau apa yang kita pikirkan. Semua orang sejatinya adalah penulis. Media sosial dan internet saat ini berkontribusi besar membentuk seseorang menjadi penulis. Setidaknya menjadi penulis status akun sosialnya masing-masing. Bagaimana kita tidak menjadi penulis, bila tiap kali membuka FB dan BBM, pertama yang kita baca adalah: “Apa yang anda pikirkan?” Tangan ini rasanya gatal kan, bila tidak menjawab pertanyaan dari si kepo FB dan teman-temannya itu? Maka yang terjadi berikutnya adalah menarilah jemari kita di atas keypad untuk sekadar menuliskan apa yang kita pikirkan. Dan tanpa kita sadari, kita telah menjadi seorang penulis. Masing-masing orang mempunyai alasannya sendiri mengapa menulis, pun demikian dengan saya dan Anda. Saya adalah penulis pemula yang masih belajar meracik kata menjadi kalimat yang bercita rasa. Saya juga tidak membatasi tulisan saya, kadang bila ingin berimajinasi, maka yang saya tulis adalah cerita rekaan fantasi. Tapi bila otak saya ingin sedikit serius, maka yang saya tulis adalah artikel ilmiah dan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan saya sebagai cik gu. Tapi terkadang bila otak saya sedang malas menelisik ide yang kadang jual mahal tidak ingin menampakkan batang hidungnya, maka tulisan saya hanya berupa postingan status di medsos yang absurd keilmiahannya.

Bila Anda bertanya pada saya satu tahun yang lalu,“Mengapa saya menulis?”, maka hal pertama yang saya lakukan saat itu mungkin menggaruk kulit kepala saya yang tidak gatal, karena saya tidak tahu jawaban pastinya. Saat itu, saya menulis ya karena saya ingin menulis. Memang sesederhana itu alasan saya. Tetapi bila sekarang Anda bertanya pada saya dengan pertanyaan yang sama, maka ada beberapa jawaban yang akan saya berikan, di antaranya adalah

Saya Menulis untuk Kepuasan Batin Saya Jiwa dan imajinasi saya liar, selalu ingin mengembara menemukan muaranya. Dan rajutan kata adalah ejakulasi dan muara penampung liarnya arus    imaji di otak saya.

Saya Ingin Tetap Abadi, T erus Hidup Walaupun Sudah Mati Nantinya Jasad ini boleh terkubur dan lebur dalam tanah, tetapi ide, imajinasi, hasil pikiran saya akan hidup abadi bersama karya-karya yang pernah saya tulis. Sahabat, saudara, anak, cucu dan tetangga bisa terus menikmati pikiran-pikiran saya walaupun jasad ini sudah dalam tanah. Bahkan mungkin orang-orang yang membenci sewaktu saya masih hidup akan dihantui ruh saya yang ada bersama tulisan-tulisan saya.

Saya adalah Manusia Lemah Saya adalah manusia lemah, hanya pelaku dari mega skenario yang telah Tuhan gariskan pada semesta. Sementara bisikan iblis yang berupa kejahatan, ketidakadilan, belenggu sosial, kenestapaan kaum papa dan penderitaan cinta seolah membuat nafsu saya bangkit untuk menjadi Tuhan atas dunia kecil yang saya ciptakan sendiri. Dengan menulis, saya bisa menciptakan dunia dan menjadi raja diraja sekaligus menjadi Tuhan yang menggariskan takdir atas manusia-manusia ciptaan saya. Wow!! Saya baru sadar ternyata penulis adalah orang yang sakti ya. Bagaimana tidak sakti bila penulis berkuasa untuk mempermainkan kehidupan orang di bawah kendali pikirannya. Bagaimana penulis tidak disebut orang yang wingit_ sakti. Jawa, bila ujung penanya bisa lebih tajam dari bareta, karena rajutan katanya bisa mengoyak belenggu tradisi. Bahkan untaian kata penulis lebih mematikan dari desing peluru Klashikov AK 47 yang dapat mendobrak tirani, menyuarakan keadilan dan berteriak lantang untuk kenestapaan kaum jelata.

Senyampang itu, rima dan diksi kata yang diciptakan penulis, selaksa irama surga yang didendangkan biduan dalam sebuah pesta perayaan cinta. Menghanyutkan, menenggelamkan, meninabobokkan para pemuja cinta. Kata-kata penulis terkadang menjadi obat atas penyakit hati kronis yang diderita sang pecinta dunia. Tapi juga bisa menjadi candu sekaligus racun mematikan bagi jiwa-jiwa yang kosong akan nilai kebajikan.

Menarik sekali menjadi seorang penulis bukan?

Selain beberapa alasan yang sudah saya paparkan sebelumnya, ada alasan lain yang membuat saya terus menulis, yaitu:

Demi Uang
Bukan manusia bila tidak ingin harta dan bukan orang bila tidak menginginkan uang. Saya tidak termasuk dalam golongan munafik yang menafikan uang dalam karya saya. “Uang bukan segalanya”, pepatah tua yang dicekokkan ibu saya dulu waktu saya masih SMA. Doktrin kuno yang mendarah daging dalam kultur orang-orang timur. Tapi cobalah berjalan ke taman kota, terminal bis bahkan ke kuburan sekalipun. Tidak ada yang gratis di sana. Membuang air kecil saja harus mengeluarkan uang, apalagi air besar, walaupun toilet yang kita pakai hanya sekejap itu kotornya seperti kubangan kerbau dan aromanya semerbak bunga bangkai. Di kuburan malah lebih parah, manusia yang telah mati pun seolah bersaing untuk menunjukkan kelas dan status sosialnya. Nisan marmer putih bersaing dengan nisan pualam hitam, makam keramik bersaing dengan makam bercungkup indah, sampai-sampai malaikat Munkar-Nakir dibuat geleng-geleng kepala melihat kuburan-kuburan megah itu. Betapa matrealistisnya manusia. Begitu pun dengan saya, walaupun saya bukan pemuja harta dan uang bukan segalanya, tapi fakta berbicara segalanya butuh uang. Saya menulis untuk tiga alasan yang telah saya ceritakan sebelumnya. Toh kalaupun ada uang yang saya peroleh dari tulisan-tulisan saya, rasanya itu tidak sebanding dengan galaunya jiwa saat memegang pena, dalamnya dahi yang berkerut untuk merajut kata atau waktu yang berlalu untuk merangkai cerita. Itu karena saya masih pemula, masih amatir dan anak kemarin sore dalam rimba literasi Indonesia.

Mimpi saya tidak muluk-muluk kok, saya hanya ingin dikenal lewat karya yang saya ciptakan. Tidak perlu menjadi sebesar Daeng Khrisna Pabichara yang karya best seller Sepatu Dahlannya sudah menjadi koleksi rak buku saya sejak lama. Juga tidak perlu menjadi sehebat Andrea Hirata yang menjadi kaya raya atas royalti dari berbagai negara di dunia yang mengalih bahasakan novel fenomenal Laskar Pelanginya.

Tuhan hanya menciptakan orang seperti Daeng Khrisna dan Andrea Hirata satu kali dalam kehidupan dunia ini. Tidak ada kloning dalam kamus Tuhan. Sekeras apapun saya berusaha, saya tidak akan bisa menjadi Khrisna Pabichara atau Andrea Hirata kedua. Cukuplah bila saya bisa menjadi diri saya sendiri, menjadi seorang penulis yang mempunyai ciri khasnya sendiri walaupun karya saya cuma dihargai seharga nasi bungkus kaki lima dan lebih murah dari harga rokok putih menthol light yang digandrungi suami saya. Tapi bila anda bertanya pada saya dengan pertanyaan yang sama satu tahun yang akan datang, “mengapa saya menulis?”, mungkin jawaban saya akan berbeda lagi. Karena pada saat itu muara yang tercipta telah menjadi lautan karya, jiwa saya telah abadi bersama waktu atau malah saya sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana anda itu.
Anda tahu mengapa?
Karena mungkin satu tahun lagi, saya sudah sibuk bercengkrama dengan Tuhan saya di sana.

Sumber Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...