Harga Pangan Dikendalikan, Inflasi Tertahan

SEJAK awal tahun, pemerintah telah diperingatkan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak dan tarif listrik untuk golongan tertentu dapat mendominasi penyebab inflasi pada 2017.

Kemampuan untuk mengendalikan dengan baik harga yang diatur pemerintah (administered price), seperti di sektor pangan, digadang menjadi salah satu kunci yang dapat menetralisasi. Terbukti, langkah pengendalian harga pangan sebagai penekan inflasi, sejauh ini, terbilang ampuh.

Badan Pusat Statistik (BPS), pada Selasa (2/5), merilis tingkat inflasi April sebesar 0,09% dengan Indeks Harga Konsumen 128,33. Angka itu lebih tinggi ketimbang periode yang sama 2016 yakni -0,08%, tetapi lebih kecil daripada April 2015 yang mencapai 0,16%.

Dari tujuh kelompok pengeluaran, tercatat enam di antaranya menyumbang inflasi. Yakni makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,12%; perumahan, air listrik dan bahan bakar 0,93%; sandang 0,49%; kesehatan 0,08%; pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03%; serta transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,27%.

Sementara, satu kelompok lainnya, bahan pangan, memberikan dampak berbeda dengan mencatatkan deflasi 1,13%.

Kepala BPS Ketjuk Suhariyanto mengatakan angka inflasi April terbilang kecil dan sudah sesuai dengan yang diharapkan pemerintah. “Kelompok pangan memberikan kontribusi baik karena menyumbang deflasi dan menjadi penetralisir kelompok pengeluaran yang lain,” ujar Ketjut.

Beberapa komoditas pangan yang mengalami deflasi antara lain cabai merah dan cabai rawit, bawang merah, beras, serta daging sapi, ikan segar, telur ayam ras, bayam, kacang panjang dan minyak goreng.

Jika upaya pengendalian harga pangan terus dilakukan dan dikawal dengan baik, proyeksi inflasi 2017 di bawah 4% bukan hal mustahil. Hingga saat ini, tingkat inflasi tahun kalender, yakni Januari-April 2017 sebesar 1,28%, masih jauh di bawah angka proyeksi yang ditetapkan.

Kendati demikian, Ketjuk memperingatkan agar pemerintah berhati-hati pada periode Mei dan Juni karena mulai memasuki Ramadan dan Lebaran.

“Jika melihat pergerakan di 2015 dan 2016 pergerakan, selalu ada kenaikan di bulan puasa dan Lebaran. Tetapi itu wajar karena permintaan bahan makanan sangat tinggi. Kuncinya adalah apakah pemerintah mampu mengendalikan harga pada saat itu,” tukasnya. (X-12)
Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...