Google Gandeng Pihak Ketiga Berantas Hoax

GOOGLE menggandeng pihak ketiga untuk memerangi berita hoax. Masifnya penyebaran hoax jadi perhatian serius perusahaan internet ini.

“Kami memulai dengan mencoba ajak pihak ketiga untuk melakukan uji kebenaran tentang konten palsu yang orang buat di internet,” kata Vice President Google News, Richard Gingras dalam program Prime Time News, Metro TV, Kamis (4/5).

Richard memperkirakan, langkah ini cukup efektif dengan munculnya komunitas-komunitas yang melakukan uji kebenaran dari sebuah berita. Google juga bekerja sama dengan industri, bersama-sama mencari solusi dari masalah penyebaran hoax.

Ia menambahkan, Google bukan pihak yang menjadi penentu kebenaran sejati. Karenanya, Google juga perlu bekerja sama dengan industri media, komunitas jurnalis, untuk memuat konten tambahan yang berguna bagi pengguna, agar para pengguna mendapatkan kesimpulan sendiri tentang apa yang mereka cari.

Selain itu, Richard mengakui jika Google menerima banyak usulan untuk membuat pelatihan jurnalistik. “Kami (mendapat saran untuk) memberikan pelajaran tentang media di sekolah, terutama untuk saat ini sebuah jaman dengan lingkungan berisi informasi rumit,” ujar dia.

Dari pembelajaran ini nantinya akan menginformasikan bagaimana mengetahui pihak yang berada di sumber ini dan mempelajari apa tujuannya. Kendati begitu, Richard menilai perlu langkah lebih dari sekadar hal-hal yang ia sebutkan di atas.

Beberapa perusahaan media, kata dia, juga telah memberikan label atas konten-konten yang mereka unggah, sehingga pengguna mengetahui mana tulisan fakta, opini, maupun analisis. “Karena, pasti konten dari sebuah opini memiliki tujuan tersendiri. hal-hal yang dilaporkan bisa memberikan penilaian,” tandas dia.

Dijelaskan pula, persoalan berita hoax sedianya bukan hal baru. Masalah ini sudah ada sejak internet muncul. “Ini bukan tantangan baru bagi kami, tapi caranya yang berbeda sekarang,” tegasnya.

Peperangan Google melawan hoax diibaratkan oleh Richard bak perlombaan senjata antara pihak baik dan pihak jahat. Ketika Google mengembangkan algoritma untuk menangkal berita-berita hoax, di sisi lain para penyebar berita hoax bisa menemukan cara untuk mengalahkannya, dan begitu seterusnya.

Ia mencontohkan bagaimana penyebaran berita hoax juga marak saat pemilu Presiden Amerika Serikat beberapa waktu silam. Hal ini dibuktikan lewat sebuah kajian menarik dari MIT dan Universitas Harvard.

Para ilmuwan MIT dan Harvard itu mempelajari media sejak sebelum Pilpres dengan mendalami konten-konten dalam situs berita. Hasilnya memang ditemukan beberapa berita hoax.

Namun, lanjut Richard, berita hoax itu sebetulnya tidak memberikan dampak signifikan kepada Pilpres AS. “Ada partisan yang membuat data hampir mendekati kebenaran, namun dipelintir, itulah tantangannya,” pungkas dia.(OL-3)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...