Geliat Perusahaan Perdagangan Elektronik Nasional

PERUSAHAAN perdagangan elektronik (e-commerce) nasional dipastikan mulai menggeliat. Ini tampak dari sejumlah terobosa kebijakan pemerintah dan aksi usaha e-commerce.

Salah satu pusat perbelanjaan daring yang mengusung bisnis marketplace, Tokopedia, baru saja mendapatkan suntikan dana dari Alibaba Group. Kucuran dari pemain e-commerce raksasa Asia asal Tiongkok tersebut tergolong jumbo mencapai US$1,1 miliar, atau sekitar Rp1 triliun. Hal itu menjadikan Alibaba Group sebagai pemegang saham minoritas di Tokopedia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menanggapi aksi bisnis Tokopedia dan Alibaba itu. Masuknya dana asing ke bisnis e-commerce lokal berpotensi meningkatkan kapasitas sehingga akan lebih berkembang.

“Dana ini menjadi suatu sarana yang memungkinkan mereka melakukan hal yang tidak dapat dilakukan sebelumnya. Uang memang penting, tapi persoalan SDM juga tidak kalah penting. Kalau dua-duanya berjalan, tentu lebih baik,” ujar Darmin di sela-sela acara sepeda gembira, kemarin (Minggu, 20/8).

Di kesempatan berbeda, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita turut berpendapat bahwa masuknya investasi asing di ranah bisnis e-commerce lokal merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, jalinan kemitraan dengan Alibaba Group akan memberikan sumber kekuatan baru bagi Tokopedia yang merupakan salah satu pemain besar.

Di lain sisi, menguatnya industri berbasis daring (online) belum tentu menjadi ancaman besar bagi industri ritel. “Coba kita lihat persaingan Matahari Dept Store dan Mataharimall.com. Penjualan keduanya sama-sama naik. Padahal, barang yang dijual itu sama,” tukas Enggar.

Kuda bertanduk
Kemunculan start-up nasional dengan nilai besar telah diprediksi Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Ia mengungkapkan ada satu start-up nasional lagi yang akan masuk jajaran unicorn (kuda bertanduk).

Unicorn merupakan julukan bagi start-up yang memiliki valuasi di atas US$1 miliar, atau sekitar Rp13,4 triliun. Sayang, pria yang akrab disapa chief Rudi itu belum mau buka mulut mengenai start-up yang masuk jajaran unicorn tersebut.

“Target 1 tahun ada unicorn itu terjadi. Pokoknya tahun ini unicorn kedua ada di Indonesia. Nantilah, tunggu menjadi di akhir tahun,” ucapnya, Jakarta, Senin (14/8).

Asal tahu saja, perusahaan rintisan berbasis digital Indonesia yang saat ini termasuk jajaran unicorn, yaitu perusahaan aplikasi PT Go-Jek Indonesia. Go-Jek yang telah beroperasi di 25 kota besar di Indonesia di pertengahan 2017 ditaksir memiliki valuasi sekitar US$3 miliar.

Meskipun belum bersedia memberi bocoran mengenai unicorn kedua Indonesia tersebut, Rudiantara mengatakan bahwa perusahaan tersebut mampu mempekerjakan ribuan pegawai.

Salah satu e-commerce nasional pun diketahui juga tengah mengincar dana di pasar modal. “Telah ada satu perusahaan yang bergerak di sektor E-commerce sedang memproses untuk mengajukan penawaran umum,” papar Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat di Jambi, Selasa (8/8). Hingga saat ini belum ada perusahaan start-up yang sudah go public.

Menurut Samsul, BEI turut memfasilitasi start-up untuk memperoleh pendanaan melalui sejumlah mekanisme. Pihaknya memberikan fasilitas berupa pelatihan dan pemahaman tambahan melalui program IDX Incubator. Mereka dipertemukan dengan pemodal untuk memperoleh pendanaan secara langsung tanpa harus melalui penawaran saham perdana.(Gnr/S-4)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...