Gagal Penen, Petani NTT Sering Terjebak Hujan Tipuan

KEPALA Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru mengatakan, para petani di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sering terjebak hujan tipuan sehingga mereka sering gagal penen.

Dijelaskan, salah satu bentuk gangguan iklim yang membuat petani di NTT sering tertipu adalah false rain atau tricky rain atau yang disebut hujan tipuan. Menurut Apolinaris Geru, di Kupang, Selasa (19/9) hujan tipuan sebagai penyebab sering terjadinya gagal tanam maupun gagal panen pada sejumlah wilayah di provinsi Nusa Tenggara Timur pada setiap musim tanam.

Hujan tipuan adalah hujan yang terjadi pada saat awal masuk musim hujan tapi secara kategori klimatologis akumulasi hujan selama satu dasarian (10 hari) belum mencapai 50 milimeter atau lebih.

Setelah terjadi hujan 3-4 hari petani mengambil keputusan untuk menanam karena dirasakan musim hujan telah tiba. Namun setelah itu tidak terjadi hujan lagi selama dua minggu sampai tiga minggu (long dry spell). Akibatnya petani mengalami gagal tanam karena tanaman menjadi layu dan merana bahkan mati kekeringan karena tidak ada air (hujan).

“Salah satu bentuk gangguan iklim adalah hujan tipuan, membuat petani sering tertipu. Hujan dua atau tiga hari cukup tinggi, petani colok tanah sudah basa langsung tanam, setelah itu tidak ada hujan lagi,” katanya.

Bentuk gangguan iklim lain adalah periode kering selama musim hujan atau ‘long dry spell’. “Ada juga periode hari kering yang panjang selama musim hujan. Artinya dalam kurun waktu periode musim hujan itu terjadi hari kering atau hari tidak ada hujan,” katanya.

Menurut dia, banyak petani tidak memahami kondisi iklin ini dengan baik, sehingga menyebabkan sering terjadinya gagal tanam.
“Tipikal iklim NTT di daerah kepulauan ini, pada saat musim hujan sering terjadi periode kering. Periode kering pada musim hujan inilah yang menyebabkan gangguan pada tanaman,” ujarnya.

Tanaman mati, layu dan lainnya akhirnya gagal panen dan gagal tanam, karena setelah ditanam satu atau dua minggu tidak lagi hujan karena memang belum musim. Karena itu, dia mengimbau kepada para petani, khusus untuk daerah-daerah seperti Kupang dan pulau Timor serta sebagian Pulau Flores agar pada bulan Oktober misalnya ada hujan sebaiknya bersabar dulu atau jangan dulu menanam.

Hujan kata dia, biasanya mulai normal dan sudah jauh lebih merata baru terjadi pada akhir November sampai awal dan pertengahan Desember. “Tetapi kalau ada hujan pada September, Oktober, hendaknya hujan tersebut membuat petani agar lebih fokus dalam pengolahan tanah,” pungkasnya.(Ant/OL-3)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...