Cukup sudah kecelakaan pesawat terbang di Papua, accident PK FSO harus merupakan yang terakhir

Di negeri kita terutama di Papua terdapat bandar udara yang terletak di dataran tinggi,  belakangan ini telah terjadi berulang kali kecelakaan fatal dan non fatal. Tiga dari sekian banyak bandar udara plateau untuk melayani penerbangan komersial di Papua yang pernah mengalami kecelakaan antara lain adalah Ilaga (elevasi 7.500kaki), Wamena Airport (6,200kaki) dan Oksibil Airport (4.288kaki).   Jelas bandar udara ini berbeda dengan kriteria ideal, dalam kenyataannya bandar udara ini telah beroperasi sejak lama di wilayah pegunungan yang memiliki terrain sulit dan penuh obstacles. Bandar udara ini dbangun memang tidak sesuai dengan persyaratan ideal, namun lebih mengutamakan “demand” yang dikaitkan dengan alasan khusus (bisnis atau politis) lainnya dan juga untuk memenuhi “demand” objek wisata. Operasional pendekatan (approaching) dan pendaratan serta lepas landas dari bandar udara ini tentunya penuh dengan resiko timbulnya kecelakaan (high risk). Kecelakaan di area atau wilayah di medan yang dikelilingi lereng pegunungan dikenal dengan sebutan CFIT (Controlled Flight Into Terrain).
Kecelakaan pesawat akibat menabrak permukaan ketinggian dikenal dengan sebutan Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Kecelakaan ini terjadi sebagian besar diakibatkan oleh karena pilot mengalami spatial disorientation ketika sedang melakukan manuver dalam menghadapi cuaca buruk umumnya di fase pendekatan. Menurut data statistik terbaru dari ICAO, bentuk kecelakaan ini sebenarnya sudah sejak tahun 2000 yang lalu “ditinggalkan” oleh banyak negara di dunia, sehingga sejak 2000 – kini, turun peringkatnya dari  eringkat kesatu bergeser menjadi perngkat tiga, yaitu setelah Runway Safety Related Events (RS) dan Loss of Control In-flight (LOC-I). Artinya jumlah kecelakaan jenis CFIT sudah berkurang drastis akibat telah dapat teratasi oleh berbagai macam standar dan teknologi modern perangkat peringatan dini.
Menghadapi constraints ini semua, otoritas bandar udara setempat harus memberlakukan standar keselamatan yang lebih ketat lagi, berbeda dengan yang diterapkan di bandar udara yang normal. Semua rencana penerbangan hars sudah diterima beberapa hari sebelum penerbangan ke bandar udara ini.   Selanjutnya otoritas bandar udara  melakukan tes secara on line terlebih dahulu bagi pilot yang akan melakukan penerbangan ke Bandar udara itu. Tujuan tes tersebut semata-mata untuk menguji tingkat kemampuan pilot dalam mengatasi medan pendaratan dan lepas landas sekaligus untuk memberikan informasi dan arahan terhadap operasional bandar udara ini demi keselamatan. Bila dianggap kemampuan pilot tersebut belum memenuhi syarat dalam tes tersebut akan diberitahukan secara langsung untuk menunda penerbangan.   Selanjutnya Laporan cuaca dan informasi lalu lintas pesawat lain akan diberikan secara rutin dalam bentuk prakiraan dan cuaca sewaktu (pada saat itu).
Belum adanya perangkat radar jelajah sebagai salah satu alat bantu atau air navigational aid di rute Timika – Ilaga menjadikan para petugas ATS di darat hanya mengandalkan posisi pesawat berdasarkan laporan (visual) pilot pesawat ketika mereka berada di satu titik posisi. Mengingat seringnya kecelakaan di wilayah ini, IAAW menyarankan bahwa  sudah saatnya dipersapkannya peralatan surveillance di sepanjang rute ke/dari bandar udara yang dikelilingi oleh puncak pegunungan.

Sumber Marsma TNI (Purn) Juwono Kolbioen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sidang aduan Partai Republik terhadap KPU RI dan Bawaslu RI di ​​(DKPP) RI, tertunda

Sidang aduan Partai Republik terhadap KPU RI dan Bawaslu RI di ​​(DKPP) RI, tertunda

Sidang aduan Partai Republik terhadap penyelenggara Pemilu yaitu KPU RI dan Bawaslu RI di Dewan ...