Budayakan Baca lewat Karya Sastra

TINGKAT buta huruf yang terus menurun hingga 3,5% tidak berkontribusi positif terhadap budaya membaca di masyarakat. Pasalnya, untuk menggenjot minat dan daya baca, dibutuhkan cara pikir pemahaman yang terinternalisasi.

Menurut ahli linguistik Pangesti Wiedarti, kenaikan angka melek huruf memang merupakan hal positif, terutama bagi masyarakat di pelosok Tanah Air yang sulit mengakses pendidikan. Namun, sambung Pangesti, hal itu tidak berbanding lurus terhadap tingkat kemampuan membaca masyarakat.

“Buta aksara itu masalah lain. Dari dulu sudah ada program pembelajarannya,” ujar Pangesti saat dihubungi Media Indonesia, kemarin (Minggu, 6/8).

Dalam studi Most Literate Nation in the World yang digarap Central Connecticut State University, AS, tahun lalu, Indonesia menempati posisi ke-60 dari 61 negara. Posisi itu disebut menunjukkan rendahnya budaya baca masyarakat di Tanah Air.

Pangesti pun mencontohkah tingkat literasi tersebut terdiri atas sejumlah indikator, di antaranya kemampuan membaca teks. Menurutnya, sekolah-sekolah masih belum mengajarkan pentingnya kegunaan membaca dalam kehidupan sehari-hari.

Dia pun mencontohkan dalam Kurikulum 2013 sudah diatur soal pemahaman membaca, di antaranya pengajaran teks untuk bercerita dan teks untuk menyampaikan pemikiran tanpa persuasif. “Itu macam-macam dan banyak kegunaannya,” ucapnya.

“Kita tahu dan bisa membaca, tapi tidak disadarkan akan pentingnya membaca dalam kehidupan sebagai dasar penyerapan berbagai ilmu. Kuncinya pemahaman teks. Teks memiliki kegunaan sosial,” jelas ahli bahasa Universitas Negeri Yogyakarta yang juga Ketua Satgas Gerakan Literasi Sekolah itu.

Membaca teks
Pangesti pun menyarankan agar guru-guru di sekolah lebih menekankan pembelajaran membaca teks untuk meningkatkan pemahaman siswa. Dengan begitu, sambung Pangesti, tingkat literasi diharapkan bisa meningkat dan tumbuh budaya membaca yang baik.

Di sisi lain, penulis novel Okky Maddasari menilai anak-anak sekolah memiliki potensi besar untuk mengakrabi budaya membaca.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid memandang sastra bisa menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan budaya baca. Karena itu pula, sambung Hilmar, pemerintah melalui Ditjen Kemdikbud mendukung penyelenggaraan ASEAN Literary Festival (ALF) yang digelar pada 3-6 Agustus lalu.

“Kebudayaan seperti sastra kurang mendapat perhatian. Sastra bisa menjadi bagian penting. Sastra nilainya strategis karena mudah diakses dalam bentuk bahasa yang mudah dimengerti. Gairah (terhadap sastra) itu kelihatan. Kita akan mendukung terus,” imbuhnya.

Hilmar juga menyatakan Indonesia memiliki keragaman budaya tinggi di antara negara-negara ASEAN. Dirinya pun mencontohkan bahwa masyarakat di daerah memiliki banyak ekspresi kebudayaan dan pengetahuan tradisional.

Yang perlu terus didorong saat ini, lanjutnya, ialah mendokumentasikannya sebagai kekayaan budaya. “Malaysia sudah melakukan itu. Di India juga,” ucapnya.(H-1)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...