BI Pertahankan Suku Bunga Acuan, Pelonggaran Moneter Terus Berlanjut

BANK Indonesia mencatat laju pertumbuhan penyaluran kredit oleh industri perbankan terus membaik seiring dengan pulihnya perekonomian. Pada Februari 2017 kredit tumbuh 8,6%, lebih baik dari penyaluran di bulan Januari 8,3%.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk menahan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada angka 4,75% berikut lending dan deposit facility masing-masing 5,5% dan 4%. Meski bunga acuan tetap, transmisi pelonggaran moneter terus berlanjut pada suku bunga kredit di pasar.

“Transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial masih tetap berlanjut, namun semakin terbatas sejalan dengan kehati-hatian bank dalam mengelola resiko kredit,” ujar Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara dalam konferensi pers bulanan usai mengikuti RDG BI di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (20/4).

Tirta menguraikan bunga kredit modal kerja (KMK) sudah turun 113 basis poin (bps) jika dibandingkan dengan Februari tahun lalu. Bulan sebelumnya, penurunannya lebih rendah 1 bps yakni 112.

Penurunan bunga yang lebih besar terjadi pada kredit konsumsi, yakni 7 bps dalam sebulan. Pada Januari posisi penurunan bunga baru 30 bps yoy, namun di Februari angkanya sudah mencapai 37 bps yoy.

Sejalan dengan turunnya bunga kredit, penyalurannya pun mengalami peningkatan. Tirta menguraikan Februari 2017 penyaluran kredit tumbuh 8,6%, padahal di Januari pertumbuhannya hanya 8,3%.

Namun, berbeda dengan dua jenis kredit lainnya, bunga kredit investasi yang semula di Januari sudah turun 96 bps yoy, pada bulan Februari penurunannya malah susut jadi 83 bps. Penurunan juga terjadi pada pertumbuhan perolehan dana pihak ketiga (DPK) dari 10%yoy di Januari menjadi 9,2% yoy.

Menurut Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Dody Budi Waluyo semestinya transmisi pelonggaran moneter bisa terus berlanjut mengingat pelonggaran BI 7-DRR tahun lalu mencapai 150 bps.

“Kalau melihat potensi penurunan suku bunga harusnya masih bisa saja terjadi karena sekarang perbankan masih lakukan konsolidasi dan efisiensi usaha karena didorong ada korporasi yang konsolidasu terkait dengan leverange terhadap perbankan. Artinya korporasi sekarang mengupayakan efisiensi keuangannya itu akan berdampak pada pebaikan pembayaran utang ke banknya untuk lebih baik,” jelas Dody.

Menurutnya, bank akan melihat pembayaran utang dari beberapa debitur besar akan lebih baik performance mereka. Tentu akan terlihat dari sisi NPL akan mengecil, pada akhirnya kemampuan bank akan lebih baik dalam memberikan pinjaman (lending).

“Standar lending lebih turun sehingga suku bunga kredit harusnya lebih turun karena premi risiko turun,” tambah Dody.

Dari tiga jenis bunga kredit yang dikelompokkan BI, lanjut Dody, belum ada yang terelaksasi sampao 150 bps. Sehingga penurunan bunga kredit masih terus berlanjut.

“Sekarang secara total penurunannya baru 93 bps, ini per Maret 2017. Jadi masih ada room untuk penurunan suku bunga pinjaman, tergantung seberapa cepat bank berkonsolidasi menurunkan bunganya,” Pungkas Dody. (OL-5)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...