Berebut Berkah Raja di Awal Syawal

RAUT wajah Lia, 55, tampak berseri-seri sambil menunjukkan kedua tangannya menggenggam dua buah wortel, tiga helai kacang panjang, cabai, dan kleyem (makanan yang terbuat dari singkong). Pemudik dari Kota Medan, Sumatra Utara, itu puas setelah berjibaku dengan kerumunan orang untuk berebut gunungan garebek Syawal yang digelar di halaman Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah, pada Selasa (27/6). “Ini pertanda baik bagi saya dan keluarga. Empat hari lagi saya akan menikahkan anak saya, semoga lancar,” kata Lia dengan senyum puas.

Lain halnya dengan Supatmi, 60, asal Cepogo, Kabupaten Boyolali. Wanita yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani itu tidak hanya mengambil sayuran dan makanan, tetapi juga bambu yang digunakan untuk melekatkan makanan pada gunungan. “Bambu ini untuk ditaruh di ladang supaya hasilnya bagus,” ungkapnya.
Selain Lia dan Patmi, ada ratusan warga lain yang datang dengan tujuan sama. Ngalap berkah dari hajat dalem (sedekah) raja yang diwujudkan melalui gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan estri (wanita).

Dua gunungan tersebut juga merupakan pengejawantahan falsafah Jawa kuno, lingga dan yoni, yang bermakna kesuburan dan kemakmuran. Gunungan jaler berhiaskan berbagai hasil bumi, seperti kacang panjang, wortel, cabai besar, telur asin, dan klenyem dengan bagian bawah berisi tumpeng nasi putih berikut lauk pauknya. Sementara itu, gunungan estri terdiri dari rangkaian rengginang mentah dengan bagian bawah berisi nasi dengan lauk pauknya.

Prosesi garebek Syawal diawali dengan keluarnya dua gunungan dari keraton. Gunungan itu dipikul para abdi dalem. Dengan pengawalan prajurit dan iringan musik yang dimainkan korps musik, gunungan itu dibawa ke masjid agung untuk didoakan. Kemudian gunungan jaler dibawa ke halaman masjid untuk diperebutkan warga. Sementara itu, gunungan estri dibawa kembali ke keraton untuk diperebutkan warga dan abdi dalem yang menanti di sana.

Tradisi garebek Syawal telah dilaksanakan sejak zaman Kerajaan Mataram pada masa kepemimpinan Sultan Agung dan tetap dilestarikan Keraton Surakarta dan Yogyakarta sampai saat ini. Gunungan merupakan simbol rasa syukur raja dan keluarga yang telah menjalankan ibadah puasa dan menyambut datangnya Syawal. Garebek berasal dari bahasa Jawa, yakni gumerebeg, yang berarti kegaduhan. Itu disebabkan prosesi selalu diakhiri rebutan isi gunungan yang menimbulkan kegembiraan dan tawa.

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...