Bajo yang Bertahan dengan Kedo-Kedo

DERETAN rumah tancap tampak di pesisir Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Keberadaan rumah itu menjadi penanda permukiman suku Bajo.

Desa Mola, begitu nama desa tersebut, merupakan gambaran ideal kehidupan suku pengembara laut itu.

Perahu-perahu yang memenuhi kanal desa menunjukkan profesi adat yang terus dijalankan.

Warga suku Bajo nyatanya bukan hanya masih menjalankan profesi nenek moyang, melainkan juga teknik penangkapan ikannya.

“Alat pancing ini sudah dipakai sejak zaman kakek-nenek kami dulu,” ungkap Ketua Kelompok Nelayan Kedo-Kedo Sanggeh Kami, Hartono, kepada rombongan media, Senin (10/4).

Alat pancing yang digenggam Hartono disebut kedo-kedo. alat pancing itu sederhana saja, berupa kawat lentur yang digulung pada kumparan kayu.

Di tiap jarak 10 meter, kawat itu dipasangi rumbai-rumbai sebagai umpan. Jika dahulu rumbai-rumbai itu terbuat dari serabut kepala, kini dibuat dari benang sutra, marlo, dan benang emas.

Kawat yang sudah dipasangi rumbai-rumbai akan dipasang di sekeliling area karang.

Kawat itu akan ditarik-tarik sehingga menarik perhatian ikan-ikan karang. Penggunaan kedo-kedo sekarang ini sudah tidak ditemui di kelompok suku Bajo lainnya.

“Ini ramah lingkungan, kami pakai untuk menangkap ikan di wilayah karang,” jelas Hartono soal kesetiaan mereka pada alat itu.

Kedo-kedo merupakan alat tangkap ramah lingkungan karena membuat nelayan selektif terhadap ikan yang ditangkap.

Hartono dan anggotanya yang berjumlah 14 orang mengaku target pancing mereka ialah ikan sunu merah atau tung sing, ikan putih, sunu hitam, moraba, kakap, hingga barakuda.

Selain kedo-kedo, nelayan suku Bajo juga memiliki nonoke, ulur-ulur, dan mbuang-mbuang, yang kesemuanya merupakan teknik pancing ramah lingkungan.

Sulit bergabung

Nelayan-nelayan suku Bajo juga menghadapi permasalahan sarana melaut, seperti ketersediaan bahan bakar.

Selain itu, mereka menghadapi masalah dengan pengepul.

Kerap kali, para nelayan tidak memiliki posisi tawar terhadap harga.

Permasalahan itu terutama dihadapi nelayan-nelayan yang tidak tergabung dalam kelompok.

Untuk mengatasi permasalahan ini serta terus melestarikan teknik penangkapan yang ramah lingkungan, WWF Indonesia terus mendorong agar lebih banyak nelayan suku Bajo yang bergabung dalam kelompok, termasuk Kelompok Nelayan

Kedo-Kedo Sanggeh Kami.

“Sejauh ini ada empat kelompok yang terbentuk dengan berbagai jumlah anggota, dan mereka menggunakan cara-cara ramah lingkungan untuk menangkap ikan,” jelas Fasilitator World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Samran.

Tidak hanya pada nelayan, WWF Indonesia juga mengampanyekan perilaku ramah lingkungan pada turis atau pengelola pariwisata. Caranya dilakukan lewat aplikasi Marine Buddies.

Aplikasi yang diluncurkan pada Maret 2017 itu berisi berbagai informasi terkait dengan kawasan konservasi, di antaranya informasi mengenai status kawasan, peraturan-peraturan di kawasan itu, peta zonasi, dan potensi wisata.

Kawasan Wakatobi termasuk dari 165 kawasan konservasi bahari yang ada di aplikasi itu.

Aplikasi ini juga mengakomodasi informasi dua arah.

Dengan begitu, pengguna aplikasi dapat memberikan masukan mengenai kawasan konservasi yang mereka kunjungi. Masukan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk menyempurnakan aturan dan pengelolaan kawasan.

Aplikasi Marine Buddies dapat diunduh di Play Store untuk pengguna ponsel berbasis Android secara gratis.

Pengguna ponsel berbasis IOS baru bisa menggunakannya pada Mei 2017.

Aplikasi tersebut hanya dapat digunakan jika Anda berada di lokasi konservasi laut yang sedang Anda kunjungi.

“Penyelam bisa melaporkan kondisi apa yang dilihatnya di satu lokasi yang belum tentu diketahui petugas taman nasional,” imbuh Southern-Eastern Sulawesi Project Leader WWF Indonesia, Sugiyanta.

Aplikasi ini pun disosialisasikan kepada rombongan media saat ber-snorkeling di kawasan perairan yang dikenal dengan sebutan Mari Mabuk di Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Nama Mari Mabuk menggambarkan kekayaan biota laut yang berada di perairan tersebut.

Begitu lestari dan beraneka ragamnya biota di sana membuat siapa pun yang menyelam ibarat merasa mabuk karena kecantikan alam bawah laut.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kabupaten Wakatobi, Saediman, menjelaskan pihaknya sangat mengapresiasi aplikasi tersebut.

Namun, dia berharap data yang terkumpul tidak hanya dikirim ke pemerintah pusat, tapi juga dilaporkan ke pemerintah daerah guna diteruskan ke dinas terkait sehingga langkah penanggulangan yang diambil terkait dengan masalah yang ditemukan di lapangan dapat lebih cepat.

Dengan adanya pelaporan atau penilaian secara langsung oleh masyarakat di lapangan, diharapkan laporan yang diberikan akan lebih akurat.

Kontribusi penilaian masyarakat melalui aplikasi Marine Buddies ini diharapkan dapat ditindaklanjuti lembaga terkait seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...