Awas Serangan Siber terhadap Internet of Things

KAMPANYE cashless society atau masyarakat tanpa uang tunai yang digalakkan pemerintah perlu diimbangi dengan peningkatan infrastruktur keamanan siber.

Ini dilakukan demi menjamin perlindungan kerugian finansial yang menimpa nasabah ketika terjadi serangan siber pada infrastruktur jaringan berbasis internet (internet of things/IoT) di sektor finansial.

Data dari Dimension Data menyebutkan pada 2016 serangan siber berbentuk denial-of-service (DoS) dan distributed-denial-of-service (DDoS) terhadap perangkat IoT meningkat hingga 6%.

Hal itu disebabkan kurangnya pengawasan keamanan terhadap perangkat IoT.

Celakanya, benua Asia menjadi tempat yang paling rentan terjadi serangan IoT hingga mencapai 60%.

Country Director Dimension Data Indonesia Hendra Lesmana mengatakan serangan terhadap perangkat IoT paling rentan terhadap sektor finansial karena dampak kerugian berlipat ganda.

Akan tetapi, ia melihat keseriusan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengantisipasi serangan siber terhadap sektor finansial tersebut.

“Yang perlu diperhatikan lagi mungkin dari sisi guideliness saja, terutama ketika kampanye cashless society dijalankan di daerah. Saya pernah lihat sendiri ada bank ketika menjalankan kampanye tersebut dengan menyebarkan mesin EDC yang terkoneksi dengan wi-fi. Ternyata wi-fi spot hanya ditempel dengan lakban,” ujar Hendra kepada Media Indonesia, kemarin.

Berbeda dengan serangan jenis ransomware yang hanya menyerang data pribadi, serangan pada IoT dapat melumpuhkan sistem secara keseluruhan.

Mirisnya, banyak serangan disponsori negara (state-sponsored), seperti serangan peretas dari satu negara ke negara lain.

Tren serangan terhadap perangkat IoT, lanjut Hendra, punya kecenderungan meningkat tahun ini karena makin banyaknya inovasi berbasis digital.

Misalnya, para pengembang yang mempromosikan apartemen berbasis smart apartement. Serangan pada IoT biasanya juga dimanfaatkan untuk menyasar perangkat lain yang punya dampak lebih besar.

“Serangan DDoS bukan saja berkaitan dengan perangkat IoT karena para peretas senantiasa mencari perangkat lain sesuai dengan sistem yang mereka kembangkan,” kata Mark Thomas, Dimension Data’s Cybersecurity Strategist.

Ia menambahkan dampak serangan tersebut dapat memengaruhi organisasi dalam penyediaan layanan berbasis internet yang dapat menyebabkan rusaknya rantai pasokan.

Hendra membagikan kiat bagi entitas bisnis maupun sektor lainnya yang ingin melindungi organisasinya dari serangan siber ke perangkat IoT.

Menurutnya, hal paling utama ialah memastikan sistem keamanan merupakan teknologi mutakhir mampu menangkis serangan para peretas.

Berikutnya, perusahaan menempatkan parameter keamanan sebagai pertimbangan utama dalam keseluruhan IoT.

Perusahaan juga dituntut memprioritaskan dana untuk penggantian perangkat IoT yang telah usang dan perangkat teknologi pendukung operasional.

Pelatihan terkait dengan isu ancaman dan tingkat kerentanan pun wajib diberikan secara berkala kepada tim keamanan siber. (Gnr/S-4)

Sumber MediaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wasekjen Partai Republik Warsono.

Partai Republik Lolos Verifikasi Administratif KPU

Partai Republik dinyatakan lolos verifikasi administratif partai politik peserta Pemilu tahun 2019 mendatang. Hal tersebut ...